Guru Terabaikan, Tetapi Diperlukan

Oleh Drs. HAMKA, M.Pd

Kepala SDN. Cengkareng Barat 13 Pagi

Menurut saya gedung sekolah boleh tidak ada, bangku boleh tidak ada, papan tulis boleh tidak ada, serta mobiler lainnya boleh tidak ada. Kalau semua yang disebut di atas tidak ada proses belajar mengajar masih bisa berjalan, tetapi kalau guru tidak ada proses belajar mengajar tidak akan terjadi, tidak akan ada proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar bisa dilakukan di kebun, di bawah pohon, dihalaman sekolah dan seterusnya bisa dilaksanakan. Akan tetapi apakah semua itu bisa terlaksana tanpa guru?. Sekarang timbul pertanyaan apakah benar guru masih diperlukan tetapi terabaikan? Ini pertanyaan yang perlu kita jawab bersama.

Mau tidak mau  kita harus mengakui, guru memang memegang kunci utama sukses tidaknya proses belajar mengajar di sekolah. Memang, faktor guru sebenarnya merupakan salah satu dari lima faktor atau imfra struktur pendidikan yang menentukan. Gedung sekolah boleh mentereng, ruangan terasa sejuk karena menggunakan mesin pendingin, peralatan laboratorium paling mutakhir, kurikulum paling hebat se-Asia, tetapi kalau gurunya tidak bergairah, ya sama saja. Sebaliknya, meski peralatan yang tersedia tidak begitu hebat, fasilitas yang tersedia amat terbatas, tetapi bila ditangani oleh guru yang baik, yang mengerti tugasnya, yang memahami kewajibannya, bisa diharapkan proses belajar-mengajar akan berjalan dengan baik.

Betul bahwa, dalam dunia pendidikan ada sejumlah variabel yang saling terkait dan saling mengisi. Vriabel-variabel itu adalah, pertama, hardware yang meliputi gedung sekolah, ruang kelas, laboratorium, peralatan praktikum, perpustakaan, dan sebagainya. Kedua, software yang mencakup kurikulum, program pengajaran, sistem pembelajaran, dan sebagainya. Ketiga, brainware yang meliputi guru, murid, orangtua murid, kepala sekolah, dan siapa pun yang terkait proses pendidikan. Keempat, netware yang berkaitan dengan jaringan dan kerja sama baik antarguru dengan instansi sekolah, dengan lembaga yang mampu meng-up grade guru, sekolah dengan lembaga pemerintah, dan sebagainya. Kelima, dataware yang mencakup keterangan jumlah murid, jumlah guru, alur lulusan, asal pendidikan guru, kapan mulai mengajar, sudah berapa lama mengajar, dan sebagainya.

Penulis tetap mempunyai keyakinan, peran utama pendidikan ada pada guru. Karena itu, pendidikan guru menjadi amat menentukan. Untuk guru SD, rasanya tidak lagi cukup bila hanya berpendidikan D-2. Dari segi usia, lulusan D-2 itu baru berusia 20 tahun. Kedewasaan macam apa yang bisa didapat. Di depan kelas, ia tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi pendidik. Sudah saatnya guru SD berpendidikan S-1. Sebab setidaknya kalau tamatan S-1 usianya 23 tahun, sudah lumayan dewasalah dan mudah-mudahan mau membuka diri, wawasannya lebih luas, tetapi juga jangan merasa sudah paling pintar, yang akhirnya lupa diri tidak mau belajar lagi  seperti lari ditempat.

Tidak bisa dipungkiri, perubahan zaman juga mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi guru. Di lain pihak, munculnya realitas baru di masyarakat juga ikut mengubah sosok guru, sebagai makhluk serba tahu, serba bisa, dan memiliki wibawa tinggi (well Informed). Guru di masa lalu dinilai memiliki kualitas, karakternya kuat, memiliki semangat berkorban untuk masyarakat. Karena itu, para guru di masa lalu juga memiliki peran penting di masyarakat. Paling tidak, mereka sering dianggap berkemampuan membimbing masyarakat. Pendek kata, guru dianggap paling tahu, paling pas diminta nasihat, dan cocok dijadikan pembimbing masyarakat.

Benarkah sosok guru sudah mengalami perubahan seiring dengan perubahan zaman?. Dulu guru bisa hidup berkecukupan di tengah masyarakat yang kekurangan. Kini, justru sebaliknya, guru hidup berkekurangan di tengah masyarakat yang kian pandai dan berkecukupan secara ekonomi. Sejalan dengan perkembangan zaman, peran guru pun mengalami reduksi oleh kecenderungan spesialisasi bidang ilmu pengetahuan. Peran guru di masa lalu pun kini sudah diambil alih oleh anggota masyarakat yang dinilai lebih mampu. Benarkah demikian?

Guru, kini tidak lagi menjadi “cita-cita luhur”. Profesi guru, kini tidak lagi menjadi cita-cita anak-anak Indonesia yang cerdas. Anak Indonesia yang cerdas kelihatannya tidak melirik jabatan guru sebagai cita-citanya. Mereka lebih senang dengan jabatan non-guru karena mungkin penghasilannya lebih menarik ketimbang penghasilan guru. Apakah fenomena ini benar? Mungkin ada benarnya. Sebab penulis mengalami sendiri ketika bertanya kepada sang anak “Nak kamu masuk FKIP (dulu IKIP) saja yah, nanti jadi guru saja, sebab masa depan guru akan lebih diperhatikan oleh pemerintah!” si anak menjawab dengan tegas ‘saya tidak ada bakat Pak!’ ungkap si anak” akhirnya penulis dengan hati yang lapang tidak bisa berbuat banyak.

Sudah hampir menjadi rahasia umum bahwa kini, menjadi guru umumnya bukan karena cita-cita murni, tetapi karena keadaan. Mereka yang masuk lembaga pendidikan guru umumnya bukan berasal dari orang kota, kaya, dan pandai. Mereka yang memasuki lembaga pendidikan guru berasal dari desa atau pinggiran kota, yang tidak memperoleh penempaan dan persiapan di sekolah yang baik.

Sejak dari SD, mereka yang lulus dengan nilai dan kemampuan terbaik akan mencari SLTP favorit. Lulusan “kelas dua” terpaksa masuk SLTP yang kurang begitu bermutu. Ketika lulus SLTP, lulusan dengan nilai dan kemampuan terbaik akan mencari SLTA yang baik pula. Sementara lulusan “kelas dua” terpaksa mencari SMU tidak favorit atau sekolah kejuruan. Begitu pula saat lulus SLTA. Lulusan dengan nilai dan kemampuan terbaik akan mencari perguruan tinggi yang terbaik dan baik pula. “Sisanya” harus rela masuk perguruan tinggi “kelas dua” atau masuk fakultas-fakultas pendidikan.

Karena yang menjadi guru umumnya bukan berasal dari bibit-bibit istimewa, bisa dipastikan hasilnya pun tidak maksimal. Namun, kenyataan menunjukkan, para guru yang sebenarnya bukan berasal dari bibit-bibit hebat inilah yang mendapat tugas dan tanggung jawab amat luar biasa besar, mendidik dan mencerdaskan anak-anak bangsa. Ini merupakan kenyataan atau pil pahit yang harus ditelan bangsa ini.

Melihat kenyataan ini, ada pertanyaan besar yang ingin saya sampaikan. Dalam keadaan perekonomian yang serba pas-pasan, berapa banyak yang bisa disisihkan oleh negara untuk pendidikan, terutama pendidikan guru? Yang kedua, dalam keadaan sulit ini, berapa banyak yang mau diinvestasikan negara untuk memajukan pendidikan, terutama pendidikan guru? Pertanyaan ini harus dijawab kalau kita benar-benar prihatin terhadap pendidikan dan melihat bahwa guru mempunyai peran sentral dalam pendidikan.

Malik Fadjar mengatakan “Rancangan Undang-undang tentang Guru agar segera diundangkan menjadi Undang-undang”.Dengan adanya Undang-undang tentang Guru maka hal ini akan menjamin perlindungan terhadap profesi guru dan masyarakat akan memperoleh pelayanan pendidikan yang berkualitas dan profesi guru akan diminati kembali oleh generasi muda yang berkualitas” (Gema No. 2.Th. IX.  2004)

Melihat “kurangnya bekal” yang diperoleh para guru sebelum mengajar dan minimnya kompetensi yang dimiliki membuat para guru sering kali mengharapkan adanya buku-buku yang bersifat praktis. Tidak heran bila buku-buku yang berisi pertanyaan pilihan ganda (multiple choice) berikut kunci jawaban bisa menjadi “buku pedoman” bagi guru. Dengan mudah, guru bisa mengutipkan soal. Bila jawaban tidak sesuai atau cocok dengan kunci, dengan mudah akan dikatakan salah. Ada pertanyaan begini, ‘Ketika bermain air hujan, apa yang bakal terjadi?’ Anak-anak menjawab, ‘demam’, ‘pusing’, dan sebagainya. Tetapi, itu semua disalahkan gurunya karena menurut kunci, bukan itu jawabannya. Jawabannya, ’influenza’. Lho, bagaimana ini? Haruskah konsep yang salah ini diteruskan dengan mengabadikan kesalahan? Apakah masih akan terjadi proses belajar mengajar semacam ini untuk kurikulum baru nanti (sebut saja KBK)?

Di lain pihak, keinginan sekolah untuk mengikuti perkembangan zaman sering memaksa sekolah harus mencari tenaga pengajar dari luar, yang justru tidak berasal dari lembaga pendidikan tenaga kependidikan (FKIP kalau dulu IKIP). Sebagai contoh, tuntutan untuk mendapatkan guru Bahasa Inggris yang baik sering memaksa sekolah justru mengimpor guru-guru dari beberapa kursus bahasa Inggris. Begitu pula untuk mengajarkan komputer, terpaksa harus diambil dari lembaga-lembaga yang memang bukan lembaga keguruan. Maklum, kalau itu semua diserahkan kepada guru yang sudah ada, dikhawatirkan pelajaran yang diharapkan bisa memberi bekal para siswa justru tidak terjadi.

Tetapi, saya mempunyai keyakinan, karena perubahan zaman, pendidikan guru yang hanya D-2 atau D-3 itu tidak lagi memadai. Guru, bagaimanapun harus berpendidikan S-1, dan sebaiknya  IP-nya 2,75. Memang harus tinggi. Ini penting, karena di SD, guru harus mengenalkan konsep. Guru harus menghadapi anak-anak, membuat mereka dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mampu menjadi mampu. Selain itu, di SD, guru juga mulai mengenalkan konsep cara belajar yang benar. Ini penting bagi para siswa yang akan meneruskan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, guru harus bergerak, kreatif, antisipatif, dinamis, tidak menutup diri. Bila perlu guru harus merasa bodoh maksudnya agar mau belajar, belajar dan belajar terus, sehingga tidak merasa sudah paling pintar, ini bahaya, sebab guru sudah merasa puas.

Agaknya, keinginan untuk menaikkan bekal pendidikan bagi calon guru SD didukung banyak pihak meski ada juga yang menentangnya. Dasar pertimbangan yang sering diajukan, penaikkan bekal pendidikan bagi calon guru SD, dimaksudkan untuk memperbaiki mutu pendidikan. Perbaikkan mutu pendidikan semestinya diawali dengan pendidikan dasar. Guru  pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SLTP) memegang peran amat sangat penting. Karena itu, kualitas guru harus menjadi prioritas. Hal ini tentu diimbangi dengan penghasilan yang memadai, bila perlu gaji guru melebihi gaji pegawai BUMN, agar generasi muda yang cerdas melirik jabatan guru, tentu juga dibarengi dengan reward dan punishment yang seimbang dalam rangka pembinaan. ◙Hamka/P.01. (di muat di majalah Gemawidyakarya no.6 tahun 2004)

Posted on Oktober 28, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: