“Inspire”

“Inspire”

 

Oleh Drs. Hamka, M.Pd

Pengawas Sekolah Utama Jakarta Barat

 

 

Tanggal 25 Nopember 1994, dicanangkan pemerintah  sebagai hari guru nasional (HGN). Ini  merupakan prasasti tinta emas bagi komunitas Umar Bakri. Ini juga kita jadikan sebagai momentum untuk meningkatkan martabat guru selaku pengukir masa depan bangsa yang enggak lapuk karena hujan dan enggak rekang karena panas.

Apalagi Pemerintah  mencanangkan guru sebagai profesi, setara dengan profesi lain, ini merupakan torehan sejarah yang sangat membanggakan. Hal ini dikatakan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, pada puncak peringatan Hari Guru Nasional XI di Istana Olahraga (Istora), Senayan, Jakarta, pada 2 Desember 2004 lalu.

Sejak itulah dibuat perangkat atau aturan-aturan termasuk undang-undang no. 14 tahun 2005 yaitu tentang guru dan dosen, kemudian pemerintah juga membuat peraturan (PP) no. 74 tahun 2008 tentang guru dan perangkat-perangkat atau peraturan-peraturan lainnya yang terkait dengan profesionalisme guru.

Kita harus akui, di kita, di Indonesia belom banyak guru yang bisa menjadi inspirasi bagi muridnya untuk maju. Belom banyak guru yang bisa membantu peserta didik untuk mengeksplorasi pikirannya.      Ternyata masih ada guru dalam melaksanakan tugasnya hanya sekadar mengajar. Atau, guru sekadar mentransformasi informasi dari buku yang dibacanya untuk disampaikan kepada peserta didik di depan kelas.

Kalau kita amati, sebenarnya ada empat tipe guru. Pertama, guru yang baru bisa memindahkan informasi dari buku ke peserta didik di depan kelas. Kedua, guru yang baru bisa menjelaskan sebuah masalah atau bahan ajar. Ketiga, guru yang baru bisa menunjukkan bagaimana materi ajar dengan baik. Keempat, guru yang paling ideal, adalah guru yang sudah bisa menjadi inspirasi bagi muridnya untuk maju.

Memang, enggak mudah menjadi guru professional, apalagi sebagai inspire, sebab guru professional yang sekali gus sebagai inspirator adalah selain  guru itu mampu melaksananakan tugas kesehariannya dengan baik, tetapi juga guru harus bertanggung jawab terhadap bangsanya, terhadap masyarakatnya, harus mengerti tugasnya, harus memahami kewajibannya dan pada akhirnya bisa diharapkan proses belajar-mengajar akan berjalan dengan baik dan bermutu.

Semakin kedepan keliatannya tugas guru juga semakin berat, sebab guru harus berpacu dengan kemajuan teknologi, yang mau enggak mau, suka enggak suka harus kita ikuti. Guru, enggak perlu bisa merakit komputer, yang penting guru bisa mengoperasikan komputer sudah cukup. Guru enggak bisa menolak atau berpaling terhadap kemajuan teknologi. Guru enggak boleh tergusur kemajuan zaman, justru guru harus menjadi agen perubahan.

Dalam Permendiknas no. 16 Tahun 2007 di sebutkan guru harus memiliki empat kompetensi, meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Di samping itu guru juga harus mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.

Belom lagi kalau dilaksanakannya Peraturan Menteri Negara Aparatur Negara (Menpan) No. 16 Tahun 2009 Tentang Jsabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Di mana seorang guru kalau ingin kenaikkan pangkatnya enggak terhambat harus mengumpulkan nilai pengembangan profesi mulai dari pangkat Penata Muda atau golongan III/a mau naik pangkat ke Panata Muda TK I atau Golongan III/b membutuhkan tiga angka kredit pengembangan profesinya. Kenaikkan golongan dari III/b ke III/c perlu angka kredit pengembangan profesi empat, dari III/c ke III/d perlu angka kredit pengembangan profesi enam, dari III/d ke IV/a perlu angka kredit pengembangan profesi delapan, dari IV/a ke IV/b perlu angka kredit pengembangan profesi dua belas, dari IV/b ke IV/c perlu angka kredit pengembangan profesi empat belas, dari IV/c ke IV/d perlu angka kredit pengembangan profesi enam belas dan dari IV/d ke IV/e perlu angka kredit pengembangan profesi dua puluh,

Oleh karena itulah seharusnya instansi terkait, jangan bosan-bosan mensosialisasikan pelaksanaan Peraturan Menteri Negara Aparatur Negara (Menpan) No. 16 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, kalau memang regulasi ini mau dilaksanakan dengan serius. Jangan sampai teman-teman guru kaget dan enggak bisa mengantisipasi masalah ini.

Sekarang timbul pertanyaan, mungkin enggak kesemuanya itu kita bisa lalui dengan mulus, kalau kita mengoperasikan komputer saja enggak bisa. Apa mungkin di zaman se-modern sekarang kita membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di tulis tangan? Enggak mungkin-lah. Justru itulah kita sebagai guru enggak boleh gaptek (gagap teknologi) atau butek (buta teknologi).

Bukannya penulis ingin menggurui, tapi itu kenyataan, masih ada teman-teman guru yang belom bisa mengoperasikan komputer. Kita jangan malu, harus kita akui, dan kita harus belajar dan belajar, enggak ada kata terlambat dalam belajar.

Kita jangan sampai penetrasi ilmu kepada generasi muda secara parsial, yang muaranya menjadikan generasi penerus menjadi generasi putus asa, generasi yang enggak punya masa depan, generasi yang kerjanya cuma menyalahkan orang. Boro-boro kita bisa mengantarkan generasi muda kita menjadi generasi yang bertanggungjawab kepada masa depan bangsanya, kita harus bisa mengantarkan generasi muda kita untuk “bermimpi” 50 tahun kedepan.

Penulis terenyuh, ketika membaca sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh dalam memperingati Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT-PGRI ke-66 tahun 2011 lalu, dalam sambutan mendikbud itu dikatakan, seorang guru teladan pernah ditanya mengapa dia tertarik menjadi guru? Jawabnya adalah karena guru (bahkan hanya guru) yang dapat merasakan dan menyentuh pinggiran masa depan.

Dia tidak berharap dapat menyentuh masa depan karena hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Tetapi cukup dapat menyentuh pinggiran masa depan, karena melalui persinggungan dengan peserta didiknya yang mewakili masa depan tersebut, profesi guru menjadi jauh lebih menarik daripada profesi yang lain. Itulah sesungguhnya jawaban Guru Teladan.

Kemampuan menyentuh masa depan, walaupun hanya pinggirannya, menempatkan guru pada tanggung jawab yang sangat berat, namun mulia; karena kemampuan dan kesempatan itu tidak dimiliki yang lain.

Pada dirinya tertumpu beban tanggung jawab menyiapkan masa depan yang lebih baik, yaitu dengan berfungsi sebagai jembatan bagi para peserta didik untuk melintas menuju masa depan mereka. Ke masa depan yang bagaimana peserta didik akan dibawa tergantung pada jembatan (guru) itu.

Dari tiga penggalan masa (masa lalu, masa kini, dan masa depan), masa depanlah yang menjadi tujuan dengan memanfaatkan sebaik-baiknya masa lalu dan masa kini. Tugas guru sangat mulia karena menyiapkan generasi penerus demi masa depannya yang lebih baik, lebih berbudaya, dan sekaligus membangun peradaban.

Dengan demikian, secara hakiki dan asali (genuine) guru adalah mulia, menjadi guru berarti menjadi mulia, bahkan kemuliaannya sama sekali tidak memerlukan atribut tambahan (aksesori). Memuliakan profesi yang mulia (guru) adalah kemuliaan, dan hanya orang-orang mulia yang tahu bagaimana memuliakan dan menghargai kemuliaan.

Bertanggung jawab terhadap pembentukan masa depan menunjukkan bahwa guru berbeda dari profesi lainnya. Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan apabila sebagai profesi, guru mendapat kehormatan memiliki Hari Guru. Kehormatan yang tinggi ini memiliki implikasi pentingnya profesionalitas guru (Depdikbud 2011).

Di tempat terpisah Direktur Jenderal Departemen Pendidikan Nasional RI Suyanto saat memperingati Hari Guru Nasional tahun 2011 lalu mengatakan” Seorang guru yang baik adalah guru yang dapat memberikan inspirasi untuk para muridnya.

Inspirasi ini ditunjukkan para guru dengan memberikan teladan dan nasihat membangun pada anak-anak didik agar mereka belajar tanpa rasa takut jika salah dan dikatakan tidak mampu”.

Motivasi, kata Suyanto, penting didapatkan anak-anak didik dari para guru. Ia meminta guru dan siswa-siswa jangan rendah diri karena sekolahnya tidak lebih besar dan lebih terkenal dari sekolah lain. Hal itu, kata dia, karena anak-anak yang berhasil di masa depan adalah anak yang diajarkan oleh orangtua dan guru-guru luar biasa, bukan bergantung dari sekolah besar dan terkenal.

“Guru harus bisa mengajak siswa yang merasa tidak bisa apa-apa untuk belajar menjadi bisa, guru profesional adalah guru yang harus bisa memberi motivasi untuk anak-anaknya. Guru tidak boleh memotivasi muridnya untuk berani mati, tapi harus memotivasi murid untuk berani menghadapi hidupnya”

“Obama pernah bersekolah di Indonesia tiga tahun di sini. Tiga tahun termasuk sesuatu yang sangat berarti untuk menjadikannya sebagai pribadi luar biasa. Jadi, guru harus bangga karena dapat melahirkan pribadi yang berhasil di masa depan”, sambung Suyanto (Kompas, 25-11-2011).

Penulis hanya ingin mengajak kepada teman-teman guru, dengan memperingati hari guru tahun 2011,  mari kita jadikan hari guru ini sebagai momentum untuk menatap masa depan lebih baik, dan hidup kita akan terasa lebih hidup dan bermutu!.

Kalau penulis enggak salah dengar, apa yang pernah dikatakan oleh Andree Wongso seorang motivator dan inspirator “Kalau kita lunak terhadap diri kita maka kehidupan akan menjadi keras, tetapi kalau kita keras terhadap diri kita maka kehidupan akan menjadi lunak”◙Hamka /P.01.

Posted on Oktober 28, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: