Ketika Anak Guru, Enggak Mau Jadi Guru

cropped-rabil-habis-uparara2-17-08-20066.jpg

Ketika Anak Guru, Enggak Mau Jadi Guru

Oleh Drs. HAMKA, M.Pd

Kepala SDN. Rawabuaya 02 Pagi

Guru, kini belom lagi menjadi cita-cita  yang utama dan pertama dari anak-anak bangsa yang cerdas dalam memilih profesi. Profesi guru, kini enggak lagi menjadi cita-cita anak-anak Indonesia yang cerdas.  Anak-anak Indonesia yang cerdas kelihatannya belom mau melirik jabatan guru sebagai cita-cita luhurnya. Mereka lebih senang memilih jabatan non-guru karena mungkin penghasilannya lebih menarik ketimbang penghasilan guru, atau mungkin juga karena gengsi kalau anak muda menjadi seorang guru.

Padahal sekarang kalau kita amati penghasilan guru sudah lumayan, tetapi generasi muda cerdas masih banyak yang belom tertarik dan enggan menjadi guru. Jabatan guru masih jabatan kelas dua, bahkan kelas tiga dan seterusnya. Jabatan guru masih jauh di bawah jabatan Jaksa, Hakim, Dokter,  Pengacara dan seterusnya. Padahal  jabatan guru, samasama jabatan professional dan untuk menduduki jabatan itu juga sama-sama harus Sarjana (S1), tetapi anak-anak muda cerdas masih enggan memilih jabatan guru.

Anak-anak muda cerdas lebih cenderung memilih profesi yang bergengsi seperti Jaksa, Hakim, Dokter, bahkan artis atau pelawak ketimbang ilmuan apalagi jabatan guru. Apakah fenomena ini benar? Mungkin ada benarnya juga. Sekitar tahun 2004tan penulis pernah mengalami sendiri ketika bertanya kepada anak pertamanya  “Nak kamu masuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (dulu IKIP) saja yah, nanti kamu jadi guru saja, sebab masa depan guru akan lebih diperhatikan oleh pemerintah!” si anak menjawab dengan tegas “saya tidak ada bakat jadi guru Pak” ungkap si anak dihadapan bapak dan ibunya yang sama-sama guru.

Akhirnya penulis dengan hati yang lapang tidak bisa berbuat banyak, hanya mengikuti kemauan sang anak, karena sang anak lebih tertarik menjadi Taruna Akademi Militer  walaupun akhirnya menjadi PNS di Taruna Akademi Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia, sebab memang itu pilihannya. Ini merupakan satu fenomena yang kita enggak bisa bantah, bahwa anak guru enggak mau menjadi guru.

Penulis enggak  putus asa di awal tahun 2010 penulis mencoba bertanya kepada anak keduanya yang masih duduk di bangku SMU kelas III “Nak kamu masuk Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan Bahasa Inggris yah, bahasa Inggris kamu kan bagus, nanti jadi guru saja, sebab masa depan guru akan lebih diperhatikan oleh pemerintah!” si anak menjawab dengan tegas pula “saya tidak ada bakat Pak” ungkap anak kedua penulis. Karena ucapan yang sama dengan kakaknya akhirnya dengan hati yang lapang juga penulis sambil mengusap dada. Ternyata enggak semua orang bisa jadi guru.

Penulis enggak kehilangan akal tetap merayu dan membujuk anak keduanya untuk memasuki   FKIP-UNJ (Universitas Negeri Jakarta) atau FKIP-UHAMKA (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka) dengan dalih atau alasan penulis  “Nak, kamu belom tentu jadi guru, bisa saja bekerja di instansi lain non guru”, tetapi sang anak enggan menjawab. Kalaupun penulis terlalu memaksakan harus jadi guru, penulis khawatir akan terjadi hal-hal yang penulis enggak inginkan.

Harus kita akui yang  menjadi guru umumnya bukan karena cita-cita murni, tetapi karena keadaan. Mereka yang masuk lembaga pendidikan guru umumnya bukan berasal dari orang kota, orang kaya, dan kebanyakan bukan siswa/i rangking I di sekolahnya. Sebagian besar juga mereka yang memasuki lembaga pendidikan guru berasal dari desa atau pinggiran kota, yang enggak memperoleh penempaan dan persiapan di sekolah yang baik.

Sejak dari SD, mereka yang lulus dengan nilai dan kemampuan terbaik akan mencari SLTP favorit. Lulusan “kelas dua” terpaksa masuk SLTP yang kurang begitu bermutu. Ketika lulus SLTP, lulusan dengan nilai dan kemampuan terbaik akan mencari SLTA yang baik pula. Sementara lulusan “kelas dua” terpaksa mencari SMU tidak favorit atau sekolah kejuruan.

Begitu pula saat lulus SLTA. Lulusan dengan nilai dan kemampuan terbaik akan mencari perguruan tinggi yang terbaik dan pula, sebut saja Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, Fakultas Hukum. Fakultas Ekonomi100_4908 di Universitas-universitas yang favorit dan seterusnya. “Sisanya” harus rela masuk perguruan tinggi “kelas dua” atau masuk fakultas-fakultas pendidikan. Ditambah lagi dorongan orang tua di di pinggiran kota atau desa-desa agar anaknya memasuki sekolah keguruan dengan harapan kelak cepat diangkat PNS, karena mereka mengibaratkan seperti menanam palawija,  yaitu agar dikemudian hari lebih cepat mendapatkan hasil atau panen.

Karena yang menjadi guru pada umumnya bukan berasal da

ri bibit-bibit istimewa atau unggul, bisa dipastikan hasilnya pun kurang maksimal. Namun, kenyataan menunjukkan, para guru yang sebenarnya bukan berasal dari bibit-bibit hebat inilah yang mendapat tugas dan tanggung jawab amat luar biasa besar, mendidik dan mencerdaskan anak-anak bangsa. Ini merupakan kenyataan atau pil pahit yang harus ditelan bangsa ini.

Melihat kenyataan ini, ada pertanyaan besar yang ingin penulis sampaikan. Dalam keadaan perekonomian yang baru mulai bangkit, berapa banyak yang bisa disisihkan oleh negara untuk pendidikan, terutama pendidikan guru?. Yang kedua, dalam keadaan sekarang ini, berapa banyak yang mau diinvestasikan negara untuk memajukan pendidikan, terutama pendidikan guru? Pertanyaan ini harus dijawab kalau kita benar-benar prihatin terhadap pendidikan dan melihat bahwa guru mempunyai peran penting dalam pendidikan.

Kita harus menyadari betapa besar peran guru dalam menanamkan semangat kebangsaan kepada anak-anak bangsa. Indonesia bangsa dengan puluhan ribu pulau dan beragam budaya sebenarnya cukup memenuhi syarat untuk bercerai berai atau bubar. Tetapi, itu tidak terjadi karena dipersatukan oleh pendidikan melalui semangat yang ditanam oleh guru. Ini menandakan, bagaimana kuatnya pengaruh pendidikan yang kita anggap sepele ini, dimana guru mempunyai peran penting dan strategis dalam mempersatukan bangsa ini.

Tidak bisa dipungkiri, perubahan zaman juga mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi guru. Di lain pihak, munculnya kenyataan baru di masyarakat juga ikut mengubah sosok guru, sebagai makhluk serba tahu, serba bisa, dan memiliki wibawa tinggi. Guru di masa lalu dinilai memiliki kualitas, karakternya kuat, memiliki semangat berkorban untuk masyarakat.

Karena itu, para guru di masa lalu juga memiliki peran penting di masyarakat. Paling enggak, mereka sering dianggap berkemampuan membimbing masyarakat. Pendek kata, guru dianggap paling tahu, paling pas diminta nasihat, dan cocok dijadikan pembimbing masyarakat, bahkan setiap kali ada pemilu terutama di daerah-daerah atau pinggiran kota hampir 75% ketua KPPS maupun anggotanya ada seorang guru, bahkan banyak sekali guru yang mendapat kepercayaan menjadi Ketua RT ataupun RW.

Benarkah sosok guru sudah mengalami perubahan seiring dengan perubahan zaman?. Dulu guru bisa hidup berkecukupan di tengah masyarakat yang kekurangan. Kini, justru sebaliknya, guru hidup berkekurangan di tengah masyarakat yang kian pandai dan berkecukupan secara ekonomi, walaupun sekarang guru baru mulai bangun dari tidurnya secara ekonomi. Sejalan dengan perkembangan zaman, peran guru pun mengalami reduksi oleh kecenderungan spesialisasi bidang ilmu pengetahuan. Peran guru di masa lalu pun kini sudah diambil alih oleh anggota masyarakat yang dinilai lebih mampu. Benarkah demikian?

Ini mungkin disebabkan karena jabatan guru atau Umar Bakri masih melekat dari seorang sosok sederhana, memakai sepeda kumbang butut, memakai safari lusuh dengan menjinjing tas hitam terbuat dari kulit buaya dan memakai sepatu tanpa semir, sebab enggak punya uang untuk membelinya karena gajinya dikebiri. Hal ini sesuai dengan gambaran sang penyanyi legendaris Iwan Fals. Padahal menteri, gubernur Prof. Dr, bahkan Presiden-pun hasil sentuhan tangan dingin para Umar Bakri yang kesemua ini membuat otak orang seperti otak Habibi.

Terkesan seorang guru se-akan-akan enggak boleh punya mobil, enggak boleh punya rumah sendiri, guru hanya boleh punya motor butut atau sepada kumbang butut, rumah harus ngontrak. Pandangan seperti ini sebaiknya tidak ada lagi.  Mestinya  semua komponen bangsa berpandangan bahwa guru boleh punya mobil, punya rumah sendiri, guru harus keren, tetapi apakah bisa pandangan masyarakat berubah seperti ini? Ini perlu didukung oleh semua pihak termasuk  para stakeholder pendidikan. Seluruh komponen bangsa ini, harus senang melihat guru senang agar generasi muda cerdas melirik profesi guru.

Memang kesemuanya ini, resiko dari sebuah pilihan tugas sebagai guru atau sebagai komunitas Umar Bakri yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus kita laksanakan dengan baik dan penuh keikhlasan. Akan  tetapi guru itu juga bukan malaikat yang enggak perlu makan, sebab guru juga manusia, guru punya keluarga dan hidup ditengah-tengah masyarakat yang kadang-kadang perlu biaya tambahan di luar anggaran rumah tangganya sendiri, seperti untuk menghadiri undangan teman atau tetangga atau kerabat yang pesta perkawinan ataupun khitanan dan sumbangan sosial lainnya.

Para guru hanya bisa berharap, bisakah para pengambil kebijakan merenungi sebuah asa dari komunitas umar bakri yang tidak pernah berharap menerima tanda jasa sabagai pahlawan, dia hanya perlu biaya untuk makan atau uang sekedar membeli motor bututdan bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai keperguruan tinggi keguruan (FKIP),  agar kelak menjadi penggantinya sebagai guru atau pendidik.

Banyak anak guru yang enggan menggantikan Bapak/ibunya memilih profesi sebagai guru. Kalau generasi muda cerdas sudah enggak  mau menjadi guru lagi mau dikemanakan bangsa ini. Apalagi  lagi kalau komponen bangsa ini, kurang menghargai profesi guru, maka kita akan kehilangan generasi penerang dan pengukir bangsa kedepan, roh bangsa akan hilang, bahkan kita menjadi bangsa yang kerdil◙Hamka/P.01. (Gema No. 05 Tahun 2010)

Posted on Oktober 28, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: