Jangan Terlalu Mudah Menyalahkan Guru!

Gambar

Jangan Terlalu Mudah Menyalahkan Guru!

 

Oleh Drs. HAMKA, M.Pd

Kepala SDN. Rawabuaya 02 Pagi

 

            Andaikan penulis boleh ber-analogi, kepala sekolah ibarat orang bercocok tanam atau petani ialah orang yang menyediakan kebun, bibit, pupuk, dan inprastruktur pertanian lainnya. Seorang petani kalau  ingin meningkatkan hasil pertaniannya yang dulu setiap hektar menghasilkan rata-rata hanya lima ton setiap musim panen, bagaimana caranya agar setiap musim panen yang akan datang sang petani bisa menghasil sepuluh ton setiap hektarnya. Kesemuanya ini masih banyak variable yang menentukan, salah satunya ialah harus dibantu oleh petugas penyuluh pertanian.

            Begitu juga di sekolah, kalau kepala sekolah tugasnya menyediakan gedung, guru, mobiler, serta inprastruktur pendidikan lainnya, akan tetapi andaikata kepala sekolah ingin meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya, maka harus minta bantuan kepada penyelia atau supervisor pendidikan dalam hal ini pengawas.

            Seorang kepala sekolah di sekolah yang ia pimpin pada tahun ini rata-rata anak kelas terakhirnya (baca; kelas VI untuk SD kelas III untuk SMP dan SMA) mendapat nilai 6,0, bagaimana caranya untuk meningkatkan nilai menjadi 7,0 harus dibantu oleh penyelia atau supervisor pendidikan (baca.pengawas). sebab tugas utama pengawas sebagai penyelia atau supervisor pendidikan di wilayah binaannya ialah bagaimana cara meningkatkan mutu pendidikan melalui gurunya.

            Melalui tangannyalah pengawas meramu guru agar menjadi guru yang berkualitas dan profesional. Dengan kata lain pengawas juga bagaikan koki, di mana ia mampu mengolah masakan agar masakan itu lebih nikmat dan berkualitas. Namun semua itu kan enggak semudah membalik telapak tangan, harus kerja keras dari berbagai pihak, termasuk kepala sekolah dan guru itu sendiri.

            Pengawas sebagai engkongnya guru, harus ikut bertanggung jawab terhadap kualitas pendidikan di wilayah binaannya, apalagi sekarang pengawas sudah ikut mencicipi kue sertifikasi. Sebab pengawas sekarang bukan sebagai inspektur pendidikan lagi, yang dalam tugas kesehariannya lebih banyak mencari kesalahan.  Pengawas sekarang sebagai supervisor pendidikan yang dalam tugas kesehariannya lebih banyak unsur pembinaan, bagaimana caranya agar suasana belajar di dalam kelas menjadi kondusif dan berkualitas.

            Dalam konteks peningkatan mutu guru atau pendidikan secara umum, pengawas adalah orang/institusi yang paling bertanggung jawab di bidang edukatif dalam hal ini terhadap mutu pendidikan, paling enggak mampu mendongkrak kualitas guru di wilayah binaanya, yang bermuara kepada kualitas pendidikan itu sendiri. Menjadi pengawas professional memang enggak mudah, apalagi pengawas yang notabene  sebagai bapak/ibunya kepala sekolah dan engkong/neneknya guru harus benar-benar menjadi inspire bagi guru dan kepala sekolah di wilayah binaannya. Pengawas, Kepala Sekolah, Guru, harus mampu bermimpi 50 tahun kedepan. Apa lagi di zaman sekarang kita semua se-akan-akan berpacu dengan waktu, berpacu dengan kemajuan teknologi.

            Di Indonesia belom banyak  pengawas yang menjadi inspirasi bagi guru dan kepala sekolah di wilayah binaannya untuk maju. Belom banyak pengawas yang bisa membantu guru dan kepala sekolah untuk mengeksplorasi pikirannya. Masih banyak pengawas dalam melaksanakan tugasnya sekadar menyampaikan informasi hasil rapat ataupun seminar-seminar, dan hal-hal yang bersifat administratif.

            Kita lebih banyak berkutat kepada hal-hal yang bersifat  administratif. Kepala sekolah dan guru hanya diwajibkan membuat SPJ, RAPBS, amandemen kurikulum, RPP, silabus, kisi-kisi, soal ulangan, administrasi sekolah serta administrasi kelas lainnya. Padahal guru seharusnya lebih banyak mengerjakan yang bersifat akademis, bahkan guru boleh dibilang sebagai ilmuan bukan administrator.

            Memang, semua yang disebut di atas penting, namun demikian kesemuanya itu bukan kitab suci yang seolah-olah menjadi acuan atau pedoman baku untuk menilai potret seorang kepala sekolah atau guru yang bersifat absulut. Ada kesan, kalau administrasi sekolah/kelas sang kepala sekolah atau guru sudah lengkap seakan-akan sudah sangat berkualitas kepala sekolah ataupun guru tersebut.

            Kepala sekolah dan guru pun enggak boleh juga sudah merasa paling pinter, sehingga enggak mau lagi mengasah diri, menambah wawasan, ini juga akhirnya seperti jalan di tempat, sebab bagaimanapun kepala sekolah dan guru harus mengikuti perkembangan iptek, sebagai pusat pembaharuan, pusat perubahan    (agent of change) di sekolah.

            Ketika hasil ujian turun maka guru dan kepala sekolahlah yang paling pertamakali disalahkan. Begitu juga ketika ada anak-anak sekolah tawuran guru dan kepala sekolah jugalah yang paling pertamakali  disalahkan, padahal kejadian di luar jam sekolah. Seharusnya kita termasuk masyarakat serta para stakeholder pendidikan enggak boleh terlalu mudah menyalahkan guru dan kepala sekolah.            

            Ketika ada anak sekolah yang  mau gantung diri seolah-olah yang disalahkan guru dan kepala sekolah atau pendidikan, sebab sang anak takut dihukum gurunya karena enggak membuat pekerjaan rumahlah (PR) atau belom bayar uang sekolah dan sebagainya. Ada pencuri ketangkap yang disalahkan juga guru dan kepala sekolah atau pendidikan, karena sang pencuri dengan entengnya memberi alasan “Saya mencuri untuk biaya anak yang belom bayar sekolah”. Lagi-lagi secara moral guru, kepala sekolah dan pendidikan yang disalahkan.

            Masih banyak kejadian-kejadian yang enggak ada hubungan langsung dengan guru, kepala sekolah dan pendidikan, tetapi guru, kepala sekolah atau pendidikan dijadikan kambing hitam. Tugas kepala sekolah dan guru sudah terlalu banyak, mikirin e-absensi saja sudah kocar kacir, di samping tugas ke-profesiannya, kepala sekolah dan guru juga mempunyai tugas kemanusiaan, tugas kemasyarakatan yang kalau dirinci satu persatu bejibun.

            Sekarang banyak sekali sinetron, maupun pelawak yang mengenakan seragam sekolah. Niatnya sih baik, yaitu untuk mengangkat martabat pendidikan, namun menurut penulis justru melecehkan pendidikan itu sendiri. Sebenarnya banyak sekali film ataupun sinetron yang berkualitas, sebut saja Laskar Pelangi, Sang Pencerah, Garuda di dadaku, Para Pencari Tuhan (PPT) dan seterusnya.

            Seandainya para produser ataupun para sutradara mau menyelamatkan anak-anak bangsa ini dari bencana moral, buatlah film atau sinetron yang berkualitas seperti yang disebut di atas. Kalau para produser ataupun para sutradara mau sedikit berbagi tugas dan mau menyumbangkan kemampuannya untuk dunia pendidikan secara umum, mungkin secara moral tugas-tugas guru akan berkurang. Masyarakatpun harus ikut mendukung pembuatan film-film atau sinetron-sinetron yang berkualitas itu, yang pada akhirnya generasi muda mendatang akan ikut bertanggung jawab terhadap masa depan bangsanya.

Sertifikasi Bukan Malaikat

 

            Jangan sampai ada kesan, seolah-olah guru yang sudah di sertifikasi sebagai jelmaan malaikat yang bisa mengatasi semua problmatika pendidikan disekolahnya. Sertifikasi guru bukan ukuran yang tepat untuk menilai peningkatan mutu guru. Sebab, sertifikasi guru lebih merupakan proses untuk menetapkan guru apakah memenuhi syarat atau tidak sesuai ketentuan yang berlaku, sebab ini juga amanat undang-undang.

            Di dalam Undang-Undang No.14 Tahun 2005 pasal 11 dikatakan “Sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. (2) Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah. (3) Sertifikasi pendidik dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah”.

            Masalahnya, peningkatan mutu guru setelah disertifikasi enggak otomatis meningkat tajam. Karena itu, program sertifikasi guru yang dilaksanakan pemerintah hingga tahun 2015, baik lewat penilaian portofolio maupun pendidikan dan pelatihan guru, tetap harus diikuti dengan pembinaan pengembangan profesi guru secara berkelanjutan dan sistematis.

            Penulis sangat setuju apa yang dikatakan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Dr. Sulistiyo, M.Pd  pasca rapat koordinasi nasional PGRI. mengatakan, “Jika pemerintah dan masyarakat belum puas dengan kinerja guru setelah disertifikasi, jangan hanya menyalahkan guru. Selama ini, pembinaan dan pelatihan pada guru secara massal ketika ada kebijakan pendidikan yang berubah. Tetapi pembinaan secara sistematis dan komprhensif tidak terjadi,”

            Sulistiyo menambahkan,  peningkatan mutu guru tidak bisa dilaksanakan dengan pendekatan proyek. Untuk itu, keseriusan penanganan guru harus jadi komitmen pemerintah. Salah satunya lewat direktorat jenderal peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan yang sudah ada.

            “Bukan dibongkar-pasang sesukanya. Potret guru saat ini merupakan hasil dari pembinaan di masa lalu. Kita sudah tidak bisa coba-coba lagi dalam peningkatan mutu guru. Kita mesti sudah punya sistem pembinaan profesionalisme guru yang mantap,” jelas Sulistiyo. (Kompas, 27 September 2010).

            Pada kesempatan yang sama Ketua Harian Pengurus Besar PGRI, Unifah Rosyidi mengatakan peningkatan mutu guru pasca sertifikasi ada, namun belum signifikan. Namun, kenyataan itu bukan berarti sertifikasi tidak berhasil.

            Masih menurut Unifah, profesionalisme guru dapat berjalan jika ada sebuah sistem yang terus-menerus menjaga pembinaan guru berjalan. Selain itu, dalam diri guru itu sendiri harus ada komitmen untuk menjadi guru sejati.

            Unifah mencontohkan, di Singapura pemerintah mengharuskan guru mendapatkan pelatihan selama 100 jam per tahun. “Para guru terus mendapat pelatihan mendasar untuk membuat mereka kaya dalam mengembangkan metodologi dan bahan ajar untuk mendorong prestasi siswa,” ungkapnya. (Kompas, 27 September 2010). ◙Hamka /P.01.(Gema No. 11 Tahun 2010)

Posted on Oktober 31, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: