Ketika Guru “Dihargai”

Gambar

Ketika Guru “Dihargai”

 

Oleh Drs. HAMKA, M.Pd

Pengawas Utama Jakarta Barat

 

Guru adalah faktor penentu dalam sebuah proses belajar mengajar.  Selama hampir enam tahun bagi guru SD dan tiga tahun bagi guru SMP/SMA adalah waktu yang relatif lama bagi seorang guru dalam mentransformasi ilmu, membimbing dan mangasuh anak didik.

Guru  enggak kenal lelah, enggak kenal capebahkan saking bejibunnya kerjaan terkadang guru sampai mengesampingkan urusan pribadi dan keluarganya sendiri. Semuanya demi anak didik mereka yang tujuannya untuk menghantarkan  tercapainya prestasi yang maksimal bagi anak didiknya kelak.

Penulis sering katakan, suka enggak suka, senang enggak senang bahwa proses belajar mengajar  80% ditentukan oleh guru, sebab di dalam kelas gurulah orang yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan proses belajar mengajar. Faktor eksternal terhadap keberhasilan proses belajar mengajar hanya 20%, baik infrastruktur pendidikan maupun suprastruktur pendidikan.

Pendek kata nasib murid ditentukan oleh guru di dalam konteks transfer ilmu dan keberhasilan akademik maupun keberhasilan moral secara utuh. Guru di sekolah menjadi orangtua kedua, bahkan ada siswa/i yang lebih percaya kepada gurunya dibanding dengan orangtua kandungnya sendiri. Banyak murid yang lebih patuh terhadap nasehat gurunya, ini kenyataan, untuk itulah guru harus mampu memanfaatkan momentum ini.

Reformasi pendidikan berarti reformasi guru, salah urus pendidikan berarti juga salah urus guru. Harus kita akui, memang enggak mudah megurus guru, mengurus pendidikan enggak bisa sendirian, harus ada tanggungjawab bersama.

Di dalam pasal 2 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2008 tentang pendanaan pendidikan di jelaskan, “Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat”.

Mau enggak suka enggak mau suka perlu adanya kamuan keras, komitnen, integritas dan keikhlasan dalam mengemban misi pendidikan. Guru mempunyai peran sentral dan strategis terhadap eksistensi bangsa. Guru sebagai garda terdepan dalam mengusung misi pendidikan yang dapat mempersatukan eksistensi bangsa.

Penulis terenyuh, ketika membaca sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh dalam memperingati Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT-PGRI ke-66 tahun 2011 lalu, dalam sambutan mendikbud itu dikatakan, seorang guru teladan pernah ditanya mengapa dia tertarik menjadi guru? Jawabnya adalah karena guru (bahkan hanya guru) yang dapat merasakan dan menyentuh pinggiran masa depan.

Dia tidak berharap dapat menyentuh masa depan karena hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Tetapi cukup dapat menyentuh pinggiran masa depan, karena melalui persinggungan dengan peserta didiknya yang mewakili masa depan tersebut, profesi guru menjadi jauh lebih menarik daripada profesi yang lain. Itulah sesungguhnya jawaban Guru Teladan.

Kemampuan menyentuh masa depan, walaupun hanya pinggirannya, menempatkan guru pada tanggung jawab yang sangat berat, namun mulia; karena kemampuan dan kesempatan itu tidak dimiliki yang lain.

Pada dirinya tertumpu beban tanggung jawab menyiapkan masa depan yang lebih baik, yaitu dengan berfungsi sebagai jembatan bagi para peserta didik untuk melintas menuju masa depan mereka. Ke masa depan yang bagaimana peserta didik akan dibawa tergantung pada jembatan (guru) itu.

Dari tiga penggalan masa (masa lalu, masa kini, dan masa depan), masa depanlah yang menjadi tujuan dengan memanfaatkan sebaik-baiknya masa lalu dan masa kini. Tugas guru sangat mulia karena menyiapkan generasi penerus demi masa depannya yang lebih baik, lebih berbudaya, dan sekaligus membangun peradaban.

Dengan demikian, secara hakiki dan asali (genuine) guru adalah mulia, menjadi guru berarti menjadi mulia, bahkan kemuliaannya sama sekali tidak memerlukan atribut tambahan (aksesori). Memuliakan profesi yang mulia (guru) adalah kemuliaan, dan hanya orang-orang mulia yang tahu bagaimana memuliakan dan menghargai kemuliaan.

Bertanggung jawab terhadap pembentukan masa depan menunjukkan bahwa guru berbeda dari profesi lainnya. Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan apabila sebagai profesi, guru mendapat kehormatan memiliki Hari Guru. Kehormatan yang tinggi ini memiliki implikasi pentingnya profesionalitas guru (Depdikbud 2011).

Membesut prestasi  tentunya enggak mudah dilakukan oleh guru, apa lagi anak didik yang notabene terdiri dari berbagai strata sosial yang berbeda, tatapi guru berusaha untuk mengawinkan dari beberapa strata sosial yang berada di masyarakat maupun di sekolahnya.

Tugas berat guru terakomodasi secara signifikan dalam menentukan nasib anak didik selama beberapa tahun di bangku sekolah. Sebut saja siswa/i sekolah dasar (SD) dalam menentukan kelulusan diambil dari nilai semester 7 sampai semester 11 (kelas 4-6 semester ganjil untuk SD).

Di dalam konteks penentuan kelulusan, guru mempunyai andil besar terhadap nasib  anak didik kedepan. Sekarang kerja keras guru dihargai. Dulu, nasib anak hanya ditentukan oleh 3-4 hari dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN),  proses pembelajaran enggak dihargai sama sekali. Penentuan kelulusan sekarang sudah sangat ideal, dimana jerih payah guru sangat dihargai.

Contoh pengelolaan penilaian nilai akhir (NA) Bahasa Indonesia seorang siswa SD yang bernama Sulam seorang siswa kelas VI. 1) nilai rata-rata raport  = 6,00.  2) Nilai Ujian Sekolah (US) = 5,00, 3) Nilai Ujian Nasional (UN)= 2,00Pengelolaan US = 40% x 6,0=2,40 = 60%x 5,0 = 3,00, Nilai rata-rata Ujian Sekolah (US) 2,40 + 3,00 = 5,40.  Pengelolaan UN = 40% x 5,4 = 2,16 + 60% x 2,0 = 1,20= Nilai rata-rata USdanUN= 3,36, sedangkan SKM  Bahasa Indonesia = 2,00, karena 3,36 > 2,00 dan Matematika dan IPA juga di atas SKM= maka si Sulam LULUS, ini hanyalah sebuah contoh, artinya bahwa penilaian guru dari kelas IV-VI dihargai.

Eksistensi  guru bagi suatu bangsa amatlah strategis dan penting, apalagi bagi bangsa yang sedang membangun, terlebih-lebih bagi keberlangsungan hidup bangsa ditengah-tengah lintas perjalanan zaman dengan teknologi yang kian canggih dan segala perubahan serta pergeseran nilai yang cenderung memberi nuansa kepada kehidupan yang menuntut ilmu dan seni dalam kadar dinamika untuk mengadaptasikan diri.

Semakin akurat para guru melaksanakan fungsinya, semakin terjamin tercipta dan terbinanya kesiapan dan kendala sebagai seorang pembangunan. dengan kata lain, potret dan wajah diri bangsa dimasa depan tercermin dari potret dari guru masa kini, dan gerak maju dinamika kehidupan bangsa berbanding lurus dengan citra para guru di tengah-tengah masyarakat.

Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Orang yang pandai berbicara dalam bidang-bidang tertentu, belum dapat disebut sebagai guru. Untuk menjadi guru diperlukan syarat-syarat khusus, apalagi sebagai guru yang profesional harus menguasai betul seluk beluk pendidikan dan pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan lainya perlu dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan profesional tertentu.

Seseorang kalau mau menjadi guru SD harus melalui pendidikan S1-PGSD. Di dalam masyarakat tugas dan peran guru enggak bisa dibatasi, bahkan guru pada hakekatnya merupakan komponen strategis yang memilih peran penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa.

Penulis hanya ingin mengajak kepada teman-teman guru untuk menatap masa depan lebih baik, agar hidup kita akan terasa lebih hidup dan bermutu!. Kata orang pinter (baca bukan para normal) sering memberi nasihat bagus. Bila ingin tahu wajah pendidikan di suatu negara, lihatlah apa yang terlihat pada wajah anak-anak sekolah dasar (SD).

Semua komponen bangsa jangan sampai penetrasi informasi, ilmu, sosial dan budaya kepada generasi muda secara parsial, yang muaranya menjadikan generasi penerus bangsa menjadi generasi putus asa, generasi yang enggak punya masa depan, generasi yang kerjanya cuma menyalahkan orang yang pada akhirnya kita akan menjadi bangsa yang inersia dan terpecah belah.

Boro-boro kita bisa mengantarkan generasi muda kita menjadi generasi yang bertanggungjawab kepada masa depan bangsanya, kita harus bisa mengantarkan generasi muda kita untuk “bermimpi” 50 tahun kedepan.

Kalau penulis enggak salah dengar, apa yang pernah dikatakan oleh Andree Wongso seorang motivator kondang “Kalau kita lunak terhadap diri kita maka kehidupan akan menjadi keras, tetapi kalau kita keras terhadap diri kita maka kehidupan akan menjadi lunak”◙Hamka /P.01. (Gemawidyakarya. No. 08. Th. 2012)

Posted on Oktober 31, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: