Sekolah Tinggi Guru, Sebuah Alternatif

Gambar

                            Sekolah Tinggi Guru, Sebuah Alternatif                   

 

Oleh Drs. Hamka, M.Pd

Kepala SDN. Rawabuaya 02 Pagi

 

         Kalau kita sekarang ini ingin melakukan reformasi pendidikan yang benar-benar mendasar, maka kita harus melakukan perubahan-perubahan yang dapat mengembalikan wawasan profesional yang telah hilang. Kita harus melakukan perubahan-perubahan yang dapat mengembalikan semangat patriotisme kepada sistem pendidikan kita. Kita harus akui peran guru masih sangat dibutuhkan dan dominan dalam proses belajar mengajar.

         Lembaga Pendidikan guru seperti Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) harusnya dihidupkan kembali, agar lebih terfokus dalam mencetak guru, sehingga menghasilkan guru yang benar-benar profesional dan qualified. Akibat IKIP berubah menjadi Universitas, pendidikan di sekolah yang dilakukan guru telah direduksi menjadi pendidikan Adiministrasi Sekolah, sehingga lulusannya banyak yang puas hanya menjadi kepala sekolah, apalagi secara struktural karir guru terhambat oleh sempitnya peluang birokrasi.

         Kalau kita tidak mau melanjutkan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) yang dahulu, kenapa kita tidak cari alternatif lain?, agar nantinya guru lebih profesional dan terfokus, yang ada sekarang hanya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di universitas-universitas, terlalu sempit. Harapan penulis  nantinya lulusan Sekolah Tinggi Guru (STG) orang yang benar-benar mampu menerjemahkan bahasa kurikulum kedalam bahasa pengajaran. Sebab kurikulum hanyalah barang mati yang harus diterjemahkan kedalam bahasa pengajaran, orang yang mampu menterjemahkannya adalah guru-guru yang qualified.

         Pendirian Sekolah Tinggi Guru di setiap Kabupaten atau kota Madya sudah sangat mendesak, sebagai pengganti Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dahulu. Lulusannya setara S1/D4 dan berhak memakai gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) dengan iming-iming ikatan dinas, lama pendidikannya antara 4-5 tahun atau antara 8 sampai dengan 10 semester ditambah dengan pendidikan profesi untuk mendapatkan sertifikat pendidik (baca ; kalau fakultas kedokteran koas) tinggal diasrama.

         Lulusann Sekolah Tinggi Guru atau STG langsung diangkat PNS dengan Pangkat Pengatur TK I (II/d) atau Penata Muda (III/a), ditambah lagi dengan uji sertifikasi yang tentunya dengan perimbangan gaji yang memadai bila perlu tiga kali lipat dari PNS biasa sehingga guru tidak tergoda dengan mencari tambahan diluar tugasnya (baca: tidak ada lagi guru yang jadi tukang ojek) dan diimbangi pula dengan reward ataupun punishment yang jelas dan berimbang. Setelah lulus setara S1/D4 boleh mengambil sepesialis I (misal sepesialis I IPA, sepesialis I Bahasa Indonesia/Inggris dan seterusnya) dan sepesialis II setingkat dengan Pascasarjana (Magister Pendidikan).

         Memang, kita tidak pungkiri kalau di DKI Jakarta penghasilan guru sudah lumayan, selain dari gaji ditambah lagi sertifikasi (bagi yang sudah), uang TPP, Kesra. Apalagi terhitung Januari 2010 akan ada tunjangan daerah yang katanya lumayan besar. Hal ini tentunya harus disyukuri oleh guru. Karena sekarang ini guru terus diperhatikan oleh Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat.

         Muaranya generasi muda cerdas akan tertarik untuk memasuki sekolah guru. Tentunya cara perekrutannya sangat-sangat selektif, bila perlu harus aktif salah satu bahasa asing, sebut saja bahasa Inggris atau bahasa Arab, Jepang, Mandarin dan seterusnya, sehingga guru mampu menghadapi arus globalisasi, bahkan guru harus bisa bermimpi 50 tahun kedepan.

         Sekolah Tinggi Guru (STG) sebuah alternatif, karena sekolah ini nantinya akan menggantikan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau yang dulunya kita kenal dengan IKIP. Kalau departemen-departemen lain di republik ini memiliki sekolah kedinasan, sebut saja STPDN milik Departemen Dalam Negeri, kenapa Departemen Pendidikan Nasional yang notebene paling berhak mengurus pendidikan belum memiliki sekolah kedinasan berupa Sekolah Tinggi Guru yang dikelola langsung oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan Depdiknas atau diawasi langsung dibawah Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) serta Pemda setempat.

         Pasal 29 ayat satu sampai tiga undang-undang sistem pendidikan nasional di jelaskan:  (1) Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. (2) Pendidikan kedinasan berfungsi meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai negeri suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. (3) Pendidikan kedinasan diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dan nonformal.

         Harapan penulis dengan didirikannya Sekolah Tinggi Guru yang merupakan sekolah kedinasan milik Depdiknas akan membawa perubahan pola pendidikan yang selama ini diterapkan pada FKIP-FKIP di universitas-universitas negeri maupun swasta. Sehingga nantinya guru tidak akan puas hanya menjadi menejer  pendidikan atau kepala sekolah, dia akan menjadi pendidik maupun pengajar yang baik dan bertanggung jawab terhadap bangsanya bahkan menjadi seorang ilmuan.

         Di perkuat lagi dengan adanya Undang-undang tentang Guru maka hal ini akan menjamin perlindungan terhadap profesi guru dan masyarakat akan memperoleh pelayanan pendidikan yang berkualitas dan profesi guru akan diminati kembali oleh generasi muda yang berkualitas”, Sehingga jabatan guru menjadi pilihan yang utama dan pertama oleh generasi muda kita, bukan sebagai jabatan buangan atau sisa setelah tidak diterima di universitas non guru atau instansi lain.

         Jika sistem pencetakan atau perekrutan guru diselenggarakan masih dengan pola sekarang, maka kondisi pendidikan tidak akan bergerak naik walaupun anggaran pendidikan sudah mencapai 20% dari APBN/APBD. Pendidikan tidak mampu melahirkan dan megembangkan pengetahuan.◙Hamka/P.01(Gema No. 12 Tahun 2009)

Posted on Oktober 31, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: