“SPG-ku Yang Hilang”

Gambar

“SPG-ku Yang Hilang”

 

Oleh Drs. HAMKA, M.Pd

Pengawas Sekolah Utama Jakarta Barat

 

Sekolah Pendidikan Guru yang dahulu kita kenal dengan sebutan SPG, sekarang tinggal kenangan. Kalau enggak salah sejak tahun 1990-an Sekolah Pendidikan Guru ini (SPG) dibubarkan pemerintah. Pembubaran ini  tentunya mempunyai alasan yang kuat, apalagi SPG cuma setingkat SLTA dan sekolah sederajat lainnya sebut saja SMA, SMK dan sebagainya.

Kenapa pemerintah membubarkan SPG?, kemudian diganti dengan PG-SD (pendidikan guru sekolah dasar dua tahun atau Diploma II). Karena SPG dianggap sudah enggak layak sebagai lembaga pencetak guru. Dalam undang-undang No. 14 Tahun 2005 yaitu tentang guru dan dosen ditambah lagi dengan landasan operasionalnya yaitu Peraturan Pemerintah Nomor. 74 tentang guru dan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru. Memang, tamatan Diploma II PGSD, apalagi SPG sudah enggak layak dalam konteks qualifikasi pendidikan guru secara formal.

Pada dasarnya pembubaran SPG penulis setuju dalam konteks qualifikasi jenjang pendidikan, namun demikian roh, SPG jangan ikut hilang atau lenyap ditelan bumi, okelah, kalau SPG dibubarkan mungkin karena dianggap sudah enggak layak karena lulusannya setara dengan SLTA, tetapi  enggak ada salahnya kurikulum SPG khususnya mata pelajaran yang terkait dengan ilmu pendidikan dan keguruannya diadopsi secara utuh  oleh lembaga-lembaga pendidikan pencetak guru yaitu Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) atau Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Sayangnya IKIP juga ikut digusur atau diganti. Padahal Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) adalah benteng terakhir sebagai lembaga pencetak guru profesional.

Justru kalau penulis boleh mengenang dan menilai SPG, adalah sebuah lembaga pencetak guru SD paling berkualitas dan terukur pada masa itu, bahkan tergolong sangat mumpuni. Kalau penulis boleh berpendapat lebih jauh lagi SPG merupakan pabrik guru SD yang paling ideal pada saat itu. Ma’af, lulusan SPG juga enggak kalah kualitasnya dengan guru-guru tamatan S1 terutama dalam konteks ilmu keguruannya, walaupun perlu di asah setiap waktu.

Berdasarkan informasi yang penulis dengar dari 2,7 juta guru di Indon`esia, lebih dari 50 persen belum berpendidikan S1 khususnya guru SD. Sejak lama, pendidik atau guru dianggap sebagai orang yang paling memiliki kecerdasan dalam melakukan perubahan, karena guru selalu berhadapan langsung dan terprogram dengan peserta didik.

Besarnya tanggung jawab para pendidik dalam membentuk karakter bangsa dapat dikaitkan dengan kompetensi yang harus dikuasai oleh setiap pendidik. Terlalu banyak harapan yang dibebankan kepada guru-guru Indonesia untuk meramu pendidikan agar menjadi lebih baik.

Berat memang beban yang harus dipikul oleh guru, mengingat banyaknya harapan yang ingin diwujudkan oleh bangsa ini sebagaimana yang dituangkan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukannya enggak mungkin, harapan yang dibebankan pada guru tersebut enggak sejalan dengan kenyataan yang ada.

Penulis tetap mempunyai keyakinan, peran utama pendidikan ada pada guru, bahkan 80% keberhasilan proses belajar mengajar ditentukan oleh guru. Sarana dan prasarana hanya 20%. Karena itu, wawasan, pengalaman dan pendidikan guru menjadi amat menentukan. Mudah-mudahan guru juga mau membuka diri, menambah wawasannya agar lebih luas, tetapi juga guru jangan merasa sudah paling pintar, yang akhirnya lupa diri enggak mau belajar lagi  seperti lari ditempat.

Apalagi di dalam undang-undang No. 14 Tahun 2005 yaitu tentang guru dan dosen pasal 8 Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.  Pasal 9Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat.

Okelah, kalau SPG dibubarkan mungkin karena dianggap sudah enggak layak karena lulusannya setara dengan SLTA, tetapi  kenapa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) juga dibubarkan atau diberangus. Padahal Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) adalah benteng terakhir sebagai lembaga pencetak guru.

Justru kalau penulis boleh mengenang dan menilai SPG, adalah sebuah lembaga pencetak guru SD paling mumpuni dan terukur. Kalau penulis boleh berpendapat lebih jauh lagi SPG merupakan pabrik guru SD yang paling ideal pada saat itu. Ma’af, lulusan SPG juga enggak kalah kualitasnya dengan guru-guru tamatan S1 dalam konteks keguruan atau ilmu didaktik metodik, walaupun perlu di asah setiap waktu dalam konteks iptek.

Dalam konteks penguasaan ilmu tentang kependidikan, teknik-teknik mengajar sebenarnya tamatan SPG juga enggak kalah kualitasnya dengan tamatan S1 keguruan sekarang. Memang, dalam konteks penguasaan iptek harus kita akui dengan jebolan S1 sekarang, karena sekarang memang sudah tuntutan. Kalau seorang guru tamatan S1 sekarang mengoperasikan komputer saja enggak bisa, ini juga memalukan. Tinggal mengoperasikan komputer saja enggak bisa apalagi membuat komputer, ini menjadi bahan renungan kita semua.

Penulis hanya bisa berandai-andai, kalau saja SPG enggak bubarkan mungkin saja kualitas pendidikan lebih cepat meningkat. Apalagi kalau tamatan SPG diwajibkan meneruskan ke S1 IKIP (bukan digabung jadi universitas) yang sesuai dengan  bidang keahliannya. Alangkah luar biasanya profesionalisme guru-guru Indonesia.

Di SPG siswa/siwinya di cekoki teori-teori pendidikan yang sangat mumpuni, semisal psikologi pendidikan, ilmu mendidik, didaktik methodik, psikologi anak dan ilimu-ilmu lain yang terkait langsung dengan dunia pendidikan dan pengajaran.

Pada Sekolah Pendidikan Guru (SPG) siswa/siswi kelas III, sudah mulai di gembleng praktik mengajar di sekolah-sekolah yang ditunjuk oleh kepala sekolah serta guru pembimbing atau guru pamong. Pada kelas III juga siswa/siswi SPG sudah di loloh bagaimana cara-cara membuat satuan persiapan mengajar atau (SP) yang sekarang disebut  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

 

Tamatan SPG wajib meneruskan ke IKIP (FKIP)

Lembaga Pencetak guru seperti Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) harusnya dihidupkan kembali dan satu paket, agar lebih terfokus dalam mencetak guru, sehingga menghasilkan guru yang benar-benar professional dan qualified.

Akibat SPG dibubarkan dan IKIP berubah menjadi Universitas, pendidikan di sekolah yang dilakukan guru telah direduksi menjadi pendidikan Adiministrasi Sekolah, sehingga lulusannya banyak yang puas hanya menjadi kepala sekolah saja.

Kalaupun kita enggak mau keberadaan kembali Sekolah Pendidikan Guru (SPG) atau Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) yang dahulu, kenapa kita enggak cari alternatif lain?, agar nantinya guru lebih profesional dan terfokus, yang ada sekarang hanya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di universitas-universitas, terlalu sempit!.

Penulis sangat menyayangkan, kalau profesi guru hanya dijadikan pelarian, sudah enggak diterima di Universitas favorit baru masuk perguruan tinggi keguruan. Harusnya hal seperti ini kita hindari, kalau memang kita sepakat bahwa pendidikan pondamen suatu bangsa.

Harapan penulis nantinya lulusan pengganti SPG dan dan IKIP orang yang benar-benar mampu menerjemahkan bahasa kurikulum kedalam bahasa pengajaran. Sebab kurikulum hanyalah seonggok barang mati yang harus diterjemahkan kedalam bahasa pengajaran, dari bahasa pengajaran kedalam bahasa pendidikan, dari bahasa pendidikan kedalam bahasa sosial. Orang yang mampu menterjemahkannya adalah guru-guru yang professional qualified.

Pendirian Sekolah Tinggi Guru ataupun apa namanya sebagai pengganti SPG dan IKIP di setiap Kabupaten atau kota Madya perlu dipikirkan. Lulusannya setara S1/D4 dan berhak memakai gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) bila perlu dengan iming-iming ikatan dinas, lama pendidikannya antara 4-5 tahun atau antara 8 sampai dengan 10 semester ditambah dengan pendidikan profesi untuk mendapatkan sertifikat pendidik (baca ; kalau fakultas kedokteran koas) bila perlu juga tinggal diasrama.

Setelah lulus setara S1/D4 boleh mengambil sepesialis I (misal sepesialis I IPA, sepesialis I Bahasa Indonesia/Inggris dan seterusnya) dan sepesialis II setingkat dengan Pascasarjana (Magister Pendidikan).

Lulusan pengganti SPG/IKIP langsung diangkat PNS dengan Pangkat Pengatur TK I (II/d) atau Penata Muda (III/a), ditambah lagi dengan uji sertifikasi yang tentunya dengan perimbangan gaji yang memadai. Sekarang sebenarnya guru harus tersenyum dan bersyukur, kalau kita bandingkan dengan penghasilan guru beberapa tahun lalu, penghasilan guru sekarang sudah relatif  memadai, tinggal bagaimana guru memenej penghasilannya sendiri.

Ini semua hanyalah sebuah obsesi atau boleh dibilang sebuah mimpi penulis. Sebab penulis ingin sekali pendidikan di Indonesia benar-benar berkualitas secara utuh. Sebab keberhasilan manusia enggak lepas dari kemampuannya mengawinkan tiga jenis pendidikan, yaitu pendidikan formal (sekolah), pendidikan informal (keluarga) dan pendidikan nonformal (masyarakat).◙Hamka/P.01

Posted on Oktober 31, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: