Nggak Mudah Mengurus Pendidikan

Gambar

Nggak Mudah Mengurus Pendidikan

Oleh Drs. HAMKA, M.Pd

Kepala SDN Cengkareng Barat 13 Pagi

 

Mengurus pendidikan bukan seperti mengurus pabrik atau perusahaan yang semata-mata mengejar keuntungan, sebab disitu ada fungsi sosial, ada misi kebangsaan, banyak sekali kriteria-kriteria khusus yang harus dipenuhi oleh seorang komisaris ataupun menejer pendidikan. Kriteria-kriteria  tersebut tidak ditemukan dalam dunia industri ataupun dunia bisnis.

Bahasa yang diterapkan di dalam dunia pendidikan seharusnya berbeda dengan bahasa yang diterapkan di dunia industri atau bisnis walaupun mungkin ada secuil kesamaan. Seorang birokrat pendidikan nggak bisa menggunakan bahasa dinas yang baku dan kaku yang bersifat instruktif, formal atau politis semata, tetapi harus mampu menterjemahkan dengan bahasa-bahasa non formal, informal dan sosial atau dengan kata lain dengan bahasa pendidikan.

Kita harus akui, meretas problematika dunia pendidikan di Indonesia, nggak jauh berbeda dari upaya mengurai benang kusut. Selain berhadapan pada masalah-masalah masa lalu, masalah-masalah masa kini yang semakin kompleks dan jelimet pun nggak kalah sulitnya diselesaikan. Sekolah roboh, masalah kualitas guru, sarana dan prasarana pendidikan kurang memadai, serta biaya pendidikan yang memang sangat besar dan dibutuhkan adalah sekian contoh problem kuno pendidikan nasional. Belum lagi, tahun-tahun terakhir ini indeks kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia kian tersungkur, jauh tertinggal dari negara-negara tetangga di kawasan ASEAN.

Secara umum kualitas manusia Indonesia tertinggal ketimbang negara-negara lain yang dulu di bawah Indonesia. Sementara watak dan sifat bangsa Indonesia tidak berubah dari zaman penjajah hingga kini, yaitu malas dan suka foya-foya. Fenomena tersebut terungkap dalam acara diskusi panel Kualitas Manusia Indonesia Tanggung Jawab Siapa? yang diselenggarakan oleh Koalisi untuk Indonesia Sehat (KuIS) di Jakarta baru-baru ini

Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta selaku pembicara dalam diskusi tersebut mengatakan “Melihat jumlah penduduk Indonesia khususnya perempuan yang demikian besar yaitu 206,26 juta (sensus tahun 2000) dengan perbandingan laki-laki (50,1%) dan perempuan (49,9%), seharusnya bangsa Indonesia bersyukur. Karena, dengan potensi perempuan yang besar tersebut kita dapat menggerakkan  roda- roda pembangunan dengan lebih cepat lagi, sehingga cita-cita kita bersama dapat terwujud,” papar Meutia.

Siapa pun yang mengurus pendidikan harus mempunyai satu visi, yaitu masa depan bangsa ini, yang pada akhirnya hanya bisa diselamatkan oleh putra putri Indonesia sendiri. Walaupun alam kita begitu kaya raya tapi kalau SDM-nya nggak dibenahi dan tak terdidik, jumlah penduduk justru hanya menjadi beban.

Kita jangan terlalu mengandalkan pada Presiden Susilo Bambang Yudoyono – Jusuf Kalla, dia bukan superman atau Malaikat yang bisa mengatasi segalanya, tetapi harus dibantu oleh semua komponen bangsa ini. Pokok persoalan sekarang, adalah, sudahkah orang-orang yang mengurusi pendidikan orang yang memiliki komitmen pada dunia pendidikan?, orang yang mau bekerja keras, rendah hati, memiliki kemauan, visi, peduli dan berjiwa leadership, sebab mengurus pendidikan bukan seperti mengurus pabrik.

Upaya yang harus diprioritaskan adalah menjadikan penduduk sebagai aset seperti yang telah ditempuh Cina, Korea, Jepang, Singapura dan Malaysia. Malaysia telah menempuh langkah jitu dengan mengirim anak-anak terbaiknya untuk disekolahkan di luar negeri, di bidang apa pun. Itu juga telah dilakukan China, Jepang dan India. Di Indonesia, alam kaya raya melimpah tetapi penduduk dan birokrasi malah jadi beban.

Menjadikan penduduk sebagai aset, hanya bisa dilakukan lewat pendidikan. Karenanya, pendidikan harus menjadi isu nasional bukan hanya tugas menteri pendidikan tapi dipikirkan oleh semua anggota kabinet termasuk presiden. Mereka harus terlibat, karena pendidikan adalah persoalan bangsa. Sudah waktunya pendidikan menjadi primadona pembangunan, menurut penulis tidak bisa di tunda-tunda lagi, sebab taruhannya masa depan bangsa ini.

Harus kita akui tugas menteri dan birokrat pendidikan sekarang ini memang berat, dia harus menghadapi berbagai problem yang lalu sekaligus juga membangun visi dan strategi ke depan. Pembangunan SDM penting sekali, penciptaan lapangan kerja itu bersifat jangka pendek, akan tetapi bagaimana membangun SDM itu menyangkut 10 sampai 20 tahun kedepan, sehingga yang kita perlukan adalah visi dan strategi jangka panjang yang matang dan dikomunikasikan pada tiap elemen yang berkepentingan. Sering penulis katakan pendidikan harus terlepas dari kepentingan politik praktis. Politik boleh berubah-ubah, persiden boleh berganti, kabinet boleh saja dirombak, akan tetapi program pendidikan ini harus berkesinambungan, karena ini adalah agenda strategis untuk menyelamatkan bangsa ini.

Memang, Nggak gampang mengurus pendidikan, harus ada kesadaran kolektif dari anak-anak bangsa. Apalagi ditengah aturan yang masih berubah, seonggok persoalan pendidikan terbentang di depan mata kita, yang kesemuanya harus kita selesaikan secara bijak dan penuh kearifan.

Persoalan-persoalan yang perlu menjadi prioritas dalam pembenahan persoalan pendidikan adalah pembenahan kelembagaan, peningkatan mutu, pemerataan serta strategi untuk berkompetisi dengan dunia luar. Dilihat dari kacamata kelembagaan, lembaga-lembaga pendidikan kita pengelolaannya masih di bawah standar profesional. Menurut pengamatan penulis, pendidikan perlu dikelola oleh orang-orang yang menguasai manajemen pendidikan dan dikelola dengan professional. Sekolah itu memang layanan sosial dengan tujuan mulia, tapi pengelolaannya harus benar-benar profesional.

Karena, kita berhadapan dengan anak orang, waktu anak-anak untuk mendapat pendidikan itu tidak bisa diulang. Selain itu, setiap anak itu adalah istimewa dan anak emas bagi orang tuanya, dia punya hak dan keunikan. Sekolah harus bisa melihat dan memfasilitasi agar setiap anak menjadi bibit unggul. Karenanya, mereka harus dikondisikan agar tumbuh mandiri sesuai minat dan bakatnya. Pihak sekolah harus sadar betul, potensi anak itu bisa sama atau lebih hebat dari gurunya.

Berdasarkan hasil penelitian, banyak anak yang potensial justru nggak berkembang, bahkan dikebiri oleh orang tua dan guru. Selama orang tua atau guru melihat potensi anak masih lebih rendah darinya jangan berharap terlalu banyak masa depan bangsa akan lebih baik. Padahal kalau kita merujuk hadist nabi “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini, artinya generasi sekarang harus lebih baik dari generasi kemarin dan generasi esok harus lebih baik dari generasi sekarang”.

Sebenarnya persoalan kelembagaan ini dapat diatasi dengan cara mengembangbiakkan sekolah-sekolah yang sudah dianggap bagus pada sekolah-sekolah lain (sebut saja sekolah percontohan ke sekolah inti, sekolah inti  ke sekolah imbas). Tujuannya, agar terdapat acuan yang memadai baik itu untuk sekolah-sekolah yang sudah bagus maupun yang belum. Acuan ini dapat menjadi pola pembinaan. Idealnya, ada sekolah asuh atau coaching school. Nantinya diharapkan sekolah bagus yang berwawasan internasional dapat meneteskan konsepnya ke sekolah yang dianggap belum memadai.

Bagaimana dengan isu pemerataan, sekarang ini telah berdiri sekolah-sekolah swasta, sebagian dikelola pihak asing. Padahal, di saat yang sama juga banyak sekolah gurem. Ini dianggap tidak adil. Di Jakarta ini banyak anak dari kalangan menengah ke atas yang menjadi sasaran sekolah asing. Mereka adalah captive market bagi sekolah internasional. Namun, sekolah-sekolah itu memiliki kekurangan, tidak punya spirit Indonesia dan keagamaannya juga kurang bahkan kurangnya bekerja sama dengan institusi pendidikan di wilayahnya sehingga terkesan eklusive. Hal Ini bisa saja membuat siswa-siswanya terancam dari akar kebudayaan atau bahasa kerennya kurangnya rasa nasionalisme.

Masalah itu seharusnya diselesaikan oleh sekolah-sekolah swasta berwawasan internasional. Walaupun begitu, selain sekolah swasta kelas dunia juga diperlukan sekolah-sekolah untuk kebutuhan lokal juga sekolah untuk memenuhi lapangan kerja. Jadi, memang perlu dikembangkan berbagai jenis sekolah dengan kualitas bagus namun untuk keperluan yang beragam. Harus diingat, sekolah bagus itu tidak selalu mahal dan tidak selalu mentereng.

Tidak ada salahnya gedung sekolah mentereng, ruangan terasa sejuk karena menggunakan mesin pendingin (AC), peralatan laboratorium paling mutakhir, kurikulum paling hebat se-Asia Tenggara, namun demikian harus diimbangangi oleh  guru yang qualified dan profesional, sehingga dalam melaksanakan tugasnya bergairah, semangat, bertanggung jawab yang seharusnya di atas kertas sekolah ini bermutu.

Tetapi juga sebaliknya jangan meremehkan sekolah yang memang kurang bagus secara pisik, meski peralatannya yang tersedia tidak begitu memadai, fasilitas yang tersedia amat sederhana, tetapi bila ditangani oleh guru yang baik, yang mengerti tugasnya, bertanggung jawab, memahami kewajibannya, proses belajar-mengajarnya berjalan dengan baik, bisa jadi sekolah ini menjadi sekolah yang bermutu.

Kita sudah terlalu sering ribut soal kurikulum. Harus disadari, kurikulum itu bagus kalau didasari visi dan misi yang baik. Sebab kurikulum itukan barang mati, kalau nggak diterjemahkan kedalam bahasa pengajaran sama aja bohong. Yang bisa menterjemahkan bahasa kurikulum ke-bahasa pengajaran yaitu guru yang professional dan qualified .

Sebenarnya pada era pemerintahan yang lalu banyak diangkat guru-guru baru. Namun, kualitasnya perlu ditingkatkan lagi. Guru itu harus punya keterlibatan emosi, feeling, baru kemudian intelektualitas. Setelah memenuhi persyaratan itu, kurikulum baru dapat tumbuh subur. Jika kita salah memilih guru, korbannya pasti berkelanjutan. fatal jadinya jika jadi guru karena tidak ada pekerjaan lain.

Gunakan tenaga ahli saat merekrut mereka. Setelah direkrut, mereka di-upgrade. Penulis memimpikan ada sekolah tinggi guru profesional bergelar master (S2), bila perlu ikatan dinas dengan iming-iming langsung diangkat PNS, ditambah lagi dengan tunjangan fungsional lainnya.

Cara perekrutannya tentunya  dengan seleksi yang lumayan ketat serta disiplin yang tinggi. Sekolah ini memadukan teori dan praktek. Lulusannya, diperuntukan untuk mengajar SD hingga SMA, karena masa-masa sekolah ini menentukan masa depan anak. Yang muaranya 10-20 tahun kedepan wajah bangsa ini akan ditentukan olehnya. Mudah-mudahan generasi muda cerdas akan lebih tertarik menjadi guru ketimbang menjadi anggota DPR ataupun Bupati. ◙Hamka/P.01.(Gema No. 2 Th 2007)

Posted on November 1, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. mana yang benar ? kepala sekolah adalah jabatan karier? apa jabatan politis ? apa malah jabatan pemerataan/ gantian ya? apakah Kepala sekolah yang sudah diberhentikan masih ada kesempatan jadi kepala lagi sebelum memasuki masa pensiun? mohon di kaji secara akademik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: