”Potret Pendidikan Kita”

Gambar

”Potret Pendidikan Kita”

 

Oleh Drs. HAMKA, M.Pd

Kepala SDN Cengkareng Barat 13 Pagi

Kondisi lalu lintas di Jakarta yang semrawut, memaksa sebagian anak-anak yang lokasi rumahnya cukup jauh dari sekolah tertentu, harus berangkat pagi hari. enggak usah heran, sering kita temui anak-anak masih meneruskan tidur di dalam kendaraan, berganti baju di kendaraan, sarapan di kendaraan. enggak perlu heran juga, bagi keluarga-keluarga muda yang tingkat ekonominya menengah keatas, kendaraan seperti rumah berjalan. Di sana tersedia minuman, makanan, baju seragam, dan sebagainya.

enggak hanya itu, wajah-wajah tegang hampir kelihatan dari setiap anak didik setiap hari mereka harus berangkat sekolah. Hampir enggak ada wajah riang, setiap kali mereka masuk sekolah. Suasana riang, baru terasakan, saat mereka menerima pengumuman hari libur, atau pulang lebih awal karena guru rapat atau ada keperluan lain.

Wajah-wajah tegang juga masih muncul ketika mereka ada di rumah, saat mereka harus mengerjakan pekerjaan rumah, mengikuti les tambahan, atau kegiatan lain yang mendukung atau diharapkan memperkaya perbendaharaan ilmu anak. Masyarakatpun ikut menambah suasana tegang di jalan-jalan umum, orang sudah enggak mengenal lagi toleransi, banyak kasus terjadi antara pengendara motor dengan motor, mobil dengan mobil, motor dengan mobil saling adu mulut, adu otot cuma gara-gara tersenggol atau terserempet sedikit kendaraanya.

Orang pinter sering memberi nasihat bagus. Bila ingin tahu wajah pendidikan di suatu negara, lihatlah apa yang terlihat pada wajah anak-anak sekolah dasar (SD) saat mereka pergi ke sekolah setiap hari. Di negeri ini, terutama di kota-kota besar, hampir menjadi pemandangan umum di pagi hari, anak-anak sekolah kelihatan begitu keberatan beban.

Tas di punggung yang begitu besar, kelihatan penuh berisi buku. Bahkan, sering terlihat, saking tidak mampu menggendong tas berisi buku, anak-anak SD terpaksa menyeret tas yang sudah dilengkapi roda. enggak hanya itu, pemandangan yang sepertinya keberatan beban itu masih ditambah dengan pemandangan lain. Tangan kiri menenteng berisi berbagai tugas sekolah, tangan kanan memegang tempat minum.

Ditambah lagi tugas guru dan kepala sekolah semakin menumpuk, ditengah aturan yang masih berubah, seonggok persoalan pendidikan terbentang di depan mata kita, yang kesemuanya harus kita selesaikan secara bijak dan penuh kearifan. KBK belom selesai nongol KTSP. Belom  lagi ditambah dengan SPJ ini SPJ itu, periksa ini, periksa itu, LSM ini LSM itu, wartawan ini wartawan itu, seakan terasa habis energi kepala sekolah maupun guru dibuang hanya sekedar memenuhi tuntutan yang seharusnya enggak perlu. Lengkaplah ketegangan wajah dunia pendidikan kita.

Orangtuapun kelihatannya ikut tegang bagaimana menghantarkan putra/i nya bisa meneruskan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, karena standar angka kelulusan semakin meningkat, tetapi kelihatannya kita masih ada yang belom siap benar.

Atas beban berat yang dipikul anak-anak didik beserta guru dan kepala sekolahnya, bisa saja muncul komentar sinis. “Ah, itu kan  bisa-bisanya media masa saja dan hanya terjadi di kota-kota besar. Secara khusus, itu hanya terjadi di sekolah-sekolah tertentu. Di daerah, anak-anak tidak tegang, apalagi stress itu kalau sekolah. Juga, meski tinggal di kota, mereka tidak harus membawa buku begitu berat, dan tidak harus mendapat tugas yang begitu bejibun.”

Yang ngomong ini lupa, bahwa dunia pendidikan kita mengalami kesenjangan kualitas yang begitu besar pada semua jenjang. Kualitas sekolah di kota jelas berbeda dengan kualitas sekolah di daerah. Enggak usah jauh- jauh, pada kota yang sama bahkan pada kecamatan yang sama dan dalam jarak yang tidak begitu jauhpun perbedaan kualitas sudah terjadi. Sekolah-sekolah yang berkualitas baik itu, ikut “mendongkrak” urutan negeri ini dalam percaturan internasional. Seandainya, yang dipakai acuan adalah kualitas pendidikan di daerah atau pedalaman, barangkali nama Indonesia tidak lagi disebut-sebut dalam percaturan internasional.

Dengan kondisi sekarang pun, Indonesia masih terpuruk dalam persaingan di antara negara-negara ASEAN, apalagi Asia. Suka nggak suka, senang enggak senang kualitas pendidikan di Indonesia tergolong rendah, bahkan menunjukkan kecenderungan menurun. Paling tidak, kecenderungan menurun itu bisa dirunut sejak zaman Belanda, Jepang, hingga awal Kemerdekaan. Para Bapak Bangsa dan orangtua-orangtua kita, meski hanya menikmati pendidikan rendah di zaman Belanda, namun mereka mempunyai kemampuan di berbagai bidang, terutama bahasa.

Konon kabarnya di negara maju sana, mahasiswa justru yang banyak membawa buku, dia harus keperpustakaan. Namun di kita sebaliknya siswa/i SD justru yang banyak membawa buku sampai-sampai membawa tas dorong seperti yang disebut penulis di atas, bahkan katanya kurikulum SD kita adalah paling padat di dunia mungkin sebelum “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” (KTSP), tetapi mahasiswanya justru sedikit membawa buku, ini suatu fenomena yang tentunya menjadi hal yang ironis.

Zaman sudah berubah bung. Anak-anak harus diberi bekal ilmu yang cukup agar bisa menghadapi tuntutan zaman. Zaman kita kecil dulu, boro-boro ada komputer, DVD, Play Station (PS). Satu-satunya hiburan hanya radio. Lagu-lagu hanya diketahui dari radio, mobil-mobilan terbuat dari tanah liat atau batang pohon atap. Penulis sendiri kenal TV tahun 70-an, itupun nonton di rumah tetangga dan masih hitam putih. Sekarang, anak-anak pun sudah harus bisa mengoperasikan komputer, bisa bermain Internet, bisa mengakses informasi begitu cepat dalam waktu singkat. Bagi orang dewasa sambil menikmati secangkir kopi sudah bisa keliling dunia, melalui siaran langsung sepak bola, formula I atau pun motor GP, dan sebagainya.

Rendahnya kualitas pendidikan di zaman sekarang, menurut International Education Achievement (IEA), bisa dilihat dari kemampuan membaca untuk tingkat SD. Untuk kemampuan membaca, menurut IEA, Indonesia masuk dalam urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sedang kemampuan matematika siswa SLTP kita masuk urutan ke-39 dari 42 negara. Untuk Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), negeri yang belum keluar dari krisis multidimensi ini masuk urutan ke-40 dari 42 negara peserta.

Ditambah lagi dengan tayangan-tayangan sinetron di layar kaca  yang mengatasnamakan pendidikan, dengan menggunakan seragam sekolah tertentu siswa/i terkesan cuek, menyuguhkan kekerasan yang sebenarnya menurut penulis melecehkan pendidikan itu sendiri. Menurut penulis tayangan seperti ini ikut andil dalam melorotkan kualitas pendidikan kita.

Berbicara mengenai pengembangan manusia, mau nggak mau kita harus melirik pendidikan. Itu sebabnya, dalam Peraturan Presiden Republik Indonsia No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009, Pendidikan salah satu pilar terpenting dalam meningkatkan kualitas manusia, bahkan kinerja pendidikan yaitu gabungan angka partisipasi kasar (APK) jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi dan angka melek aksara digunakan sebagai variable dalam menghitung Indek Pembangunan Manusia (IPM) bersama-sama dengan variable kesehatan dan ekonomi.

Oleh karena itu pembangunan pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisien manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Melihat kenyataan ini, Prof Dr Winarno Surakhmad, pakar pendidikan, mengatakan “Perlunya perumusan kembali falsafah pendidikan kita”. Ketiadaan falsafat pendidikan, membuat pendidikan kita semrawut. Bila memperhatikan visi pendidikan yang dirumuskan UNESCO, dapat diketahui bahwa pendidikan adalah mendidik anak untuk belajar berpikir, belajar hidup, belajar menjadi diri sendiri, belajar untuk belajar hidup. Adakah falsafah, visi, dan misi pendidikan yang dibuat Depdiknas mengacu pada hal ini? Pembaca  boleh memberikan penilaian.

Yang jelas, melihat kurikulum, buku-buku yang harus “dikunyah” anak didik, dan cara pengajaran, para peserta didik diharapkan bisa menjadi superboy, menguasai semua hal. Akibatnya, kurikulum pendidikan bagi siswa SD hingga SMU, dirancang dengan amat rinci dan padat (baca sebelum KTSP). Dari keadaan yang sudah berlangsung puluhan tahun ini, tidak heran bila dalam benak para orangtua (dipaksa) tumbuh pengertian bahwa prestasi tinggi akademik dalam penguasaan ilmu, akan menjamin kesuksesan hidup seseorang, bagaimana dengan teori Gadner dengan tujuh jenis kecerdasan manusia.

Meski demikian, banyak orangtua mulai menyadari bahwa praktik-praktik pendidikan yang kita jalankan kini, sebenarnya sudah jauh melebihi kemampuan anak-anaknya. Anak-anak harus menyerap materi pelajaran melebihi kemampuan daya pikirnya. Seringkali anak-anak hanya “dicekoki” atau di-drill dengan bahan-bahan yang bersifat hafalan. Tidak heran bila sistem pendidikan kita pun segera dilihat sebagai membelenggu siswa, tidak lagi membebaskan dan ditambah lagi Ujian Nasional (UN) sebagai eksekutor terakhir penentu nasib siswa/i, yang menurut penulis mengabaikan proses belajar di kelas selama tiga tahun.

Mengamati situasi bete pendidikan di Indonesia, agaknya kita memerlukan langkah baru, guna menyelamatkan bangsa ini. Pendidikan di Indonesia yang sedang mengalami galau, memerlukan terapi baru, agar para peserta didik bisa menemukan kegembiraan, kebahagiaan. Dalam proses pendidikan di sekolah, anak-anak bisa belajar dengan gembira, berteman, bermain, menjadi dirinya sendiri, dan mengembangkan bakatnya, guna menyiapkan masa depan.

Cara yang paling baik untuk tujuan ini adalah memberikan kesempatan dan mendorong para siswa untuk memperoleh pengalaman-pengalaman pendidikan non formal (masyarakat) dan informal (keluarga), disamping pendidikan formal (sekolah) yang mereka peroleh dari kurikulum sekolah. Pada akhirnya, tidak boleh kita lupakan bahwa keberhasilan setiap manusia dalam hidupnya ditentukan oleh kemampuannya untuk mengawinkan hasil-hasil yang diperolehnya dari tiga jenis pendidikan tadi: formal (sekolah), nonformal (masyarakat) dan informal (keluarga). Hamka/P.01 (Gema No. 09 Tahun 2008)

Posted on November 12, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. salut pak…sesuai realita pendidikan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: