Bukan Mimpi, Guru Berpangkat Pembina Utama, (IV/e)

Gambar

Bukan Mimpi, Guru Berpangkat Pembina Utama, (IV/e)

Oleh Drs. HAMKA, M.Pd

Kepala  SDN  Rawabuaya  02 Pagi

                Sejak digelontorkannya Keputusan Menteri Negara Aparatur Negara Nomor: 26/MENPAN/1989, Tentang Angka Kredit Bagi Jabatan Guru, komunitas Umar Bakri ada yang optimis, skeptis, apatis dan seterusnya, bahkan ada yang bernada sinis. Seharusnya setiap kebijakan kita apresiasi secara wajar saja, terlalu optimispun jangan, terlalu pesimispun jangan karena kita nggak pernah akan maju dan berkembang. Setiap kebijakan sebaiknya kita evaluasi setiap lima tahun sekali, kalau memang kebijakan itu lebih banyak modharatnya kita perbaiki, akan tetapi kalau kebijakan itu lebih banyak baiknya terus dilanjutkan sambil dibenahi disana-sini.

                Harus kita akui, menulis karya ilmiah itu dikatakan susah memang susah bagi yang tidak mau mencobannya, tetapi sebenarnya mudah bagi yang mau berlatih. Tinggal pilih mana yang akan ditulis karena ada tujuh pilihan untuk menulis karya ilmiah yaitu: (1) karya tulis ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survey dan atau evaluasi, (2) karya tulis atau makalah yang berisi tinjauan atau ulasan ilmiah, (3) tulisan ilmiah populer,   (4) prasaran berupa tinjauan, gagasan, ulasan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah, (5) buku pelajaran atau modul, (6) diktat pelajaran dan, (7) karya penerjemahan”.

                Beberapa waktu lalu penulis sering diundang untuk berbagi cerita, berbagi pengalaman tentang proses kenaikkan pangkat golongan IV/b keatas. Beberapa instansi terkait yang pernah mengundang diantaranya, PGRI Jakarta Utara, Sudin Dikdas Jakarta Pusat, PGRI DKI Jakarta bekerja sama dengan Dirjen PMPTK, dan Sudin Dikdas Jakarta Barat. Di dalam forum itu penulis, penulis menyinggung juga mengenai penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI), penulisan OPINI

Selain itu pula sembilan puluh persen lebih dari jumlah perserta yang ikut dalam pelatihan-pelatihan, seminar, mengharapkan adanya bimbingan dalam rangka menulis karya ilmiah sesuai dengan aturan dan selera pejabat yang berkompeten menilai karya ilmiah untuk penetapan angka kredit pada pengembangan profesi.

                Untuk mencapai angka kredit 12 (Dua belas), dari pengembangan profesi ada lima pilihan kegiatan: (1) melakukan kegiatan karya tulis/karya ilmiah dibidang pendidikan, (2) membuat alat pelajaran/alat peraga/alat bimbingan, (3) meciptakan karya seni, (4) menemukan teknologi tepat guna dibidang pendidikan dan, (5) mengikuti pengembangan kurikulum. Pembuatan Karya Tulis Ilmiah, sebenarnya tidak terlalu sulit asal sudah memenuhi syarat standar minimal Karya Tulis Ilmiah saja sudah mendapat nilai, tidak perlu syarat ideal”, imbuh Kepala Biro Kepegawaian Departemen Pendidikan Nasional itu”

                Pada kesempatan itu peserta selain mendapat penjelasan tentang apa, mengapa, dan bagaimana menulis karya ilmiah juga menerima penjelasan yang gamblang dari para nara sumber. Penulis adalah salah seorang nara sumber mengatakan “Pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini kalau kita sulit-sulitin memang sulit, tetapi kalau kita mudah-mudahin insya Allah mudah, semua  ini bisa dipelajari modalnya kemauan.

                Banyak sekali buku-buku yang dijual di toko tentang pembuatan karya tulis ilmiah, misalnya  buku mengenai metodologi penelitian, metode researh maupun statistika. Marilah  kita sama-sama belajar menulis, sebab kalau kita tidak mulai dari sekarang kapan lagi!, kuncinya kemauan dan banyak membaca. Kita biasakan membaca dalam satu hari tiga puluh menit saja”.

“Mudah-mudahan kalau kita sudah terbiasa membaca, dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah pun tidak mengalami hambatan yang berarti. Apa lagi Kepala Sekolah dan Guru-guru di DKI Jakarta, umumnya usianya masih muda-muda serta banyak yang Sarjana bahkan Pasca Sarjana”,

Pada hakekatnya pelatihan-pelatihan merupakan kebutuhan bagi orang-orang yang selalu dinamis ingin menambah sumber daya dirinya, terlebih bagi guru penular pengetahuan, pengalaman serta keterampilan terhadap murid atau orang lain yang membutuhkan.               

Bila karya tulis ilmiah ingin mendapatkkan kredit sebagai pengembangan profesi harus ada pengesahan dari kepala sekolah dan lembaga profesi, kajian pada lingkup pendidikan, langkah pengerjaannya menggunakan metode berfikir ilmiah, serta sosok tampilannya sesuai dengan pedoman terbitan Depdiknas.

Mengapa guru sulit memulai menulis? Dikarenakan belum biasa memulai, sempitnya waktu untuk menulis, kurangnya pengetahuan, tidak mengetahui jenis karya ilmiah yang dinilai angka kredit serta takut melihat teman yang sudah mencoba selalu gagal.

Diadakannya work shop atau pelatihan, seminar ataupun berbagi pengalaman oleh instansi terkait ini, bertujuan untuk membantu teman-teman yang kebingungan mencari jalan keluar untuk kenaikan pangkat yang bersyaratkan nilai pengembangan profesi mengenai karya ilmiah. Karena Guru bukan lagi bermimpi mencapai golongan IV/e, akan tetapi menjadi kenyataan”. ◙Hamka/P.01 ( Gema. No.  09. Th 2009 )

Posted on November 13, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: