Mungkinkah Guru Sekolah Dasar Bisa Menyamai Guru Besar?

Gambar

Mungkinkah Guru Sekolah Dasar Bisa

Menyamai Guru Besar?

Oleh Drs. HAMKA, M,Pd

Kepala SDN. Rawabuaya 02 Pagi

 

“Jangan takut membuat kesalahan, kearifan seringkali lahir dari kesalahan-kesalahan” .Hal ini dikatakan Paul Galvin seorang pengusaha sukses yang juga pediri Motorolla. Kata-kata bijak ini sakali gus juga sebagai inspirator atau ilham penulis untuk mencoba berkarya. Memang sulit, kenaikkan pangkat ke-Pembina Utama atau ke-Golongan IV/e, karena pangkat ini biasanya hanya milik Para guru besar di Universitas-universitas atau milik para pejabat struktural eselon I di tingkat pusat maupun departemen-departemen di negeri ini, sebut saja Dirjen, Sekjen, Irjen ataupun Badan-badan di tingkat pusat.

Lalu timbul pertanyaan dalam benak penulis. Apakah kita harus pasrah saja menunggu masa pensiun yang lumayan masih lama?, penulis sudah beberapa kali mencoba mengusulkan kenaikkan pangkat ke-Pembina Utama atau Golongan IV/e, namun demikian tidak semudah membalik telapak tangan. Kata orang bijak, sesuatu yang kita raih dengan susah payah, maka hasilnya akan terasa lebih nikmat?.

Memang berat, apalagi kalau wawasan atau ilmu pengetahuan para guru SD harus disejajarkan dengan para guru besar yang nota bene memiliki ijazah S3 bahkan tamatan luar negeri, sedangkan guru SD cuma S1, bahkan masih ada yang D2 atau D3. Guru  SD yang S2 masih bisa dihitung dengan jari. Ditambah lagi kalau guru SD sudah merasa pintar, tidak mau mengasah diri dan membuka wawasan tidak mungkin bisa mengimbangi para guru besar tersebut.

Kaitannya dengan masalah tersebut di atas, kemudian timbul pertanyaan, bisa tidak sih atau mungkin tidak sih atau mimpi bukan sih guru SD mencapai golongan IV/e?, andaipun bisa tidak semuanya guru  SD, karena dibatasi oleh usia dan pendidikan guru tersebut. Sebut saja Zaenal Abidin seorang guru SD pendidikannya hanya D2, usianya sudah 56 tahun sekarang baru golongan IV/a, apakah bisa guru tersebut mencapai golongan IV/e, mungkin tidak bisa, namun sebaliknya sebut saja Ichsan Holili, pendidikan S2 usia 48 tahun sejak 1 Oktober 2006 sudah menduduki pangkat Pembina Utama Madya atau golongan IV/d, mungkin saja guru tersebut bisa mencapai golongan IV/e, karena memang usia pensiunnya masih lumayan lama, walaupun dengan syarat-syarat yang luar biasa susahnya.

Sebenarnya penulis bermimpipun tidak untuk menduduki golongan IV/e. Penulis hanya ingin mencoba mengubah nasib, penulis pun menyadari tidak mudah untuk kenaikkan pangkat dari golongan IV/d ke- IV/e, tetapi apakah ini hanya mimpi bagi guru SD ke golongan IV/e, apakah pangkat tersebut hanya milik para guru besar dan pejabat eselon I saja? penulis rasa tidak mimpi, masih mungkin bisa meraih pangkat tersebut selama guru SD masih ada kemauan berkarya/menulis untuk memenuhi syarat kenaikkan pangkat dengan cara memenuhi nilai pengembangan profesi.

Tetapi guru SD pun tidak boleh pasrah terhadap keadaan, mumpung aturan masih memungkinkan atau terbuka, harus berusaha dan membuka diri. Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum atau seseorang kalau dia sendiri tidak mau merubahnya. Hal inilah yang membuat penulis berniat untuk mencoba dan mencoba mengubah nasib, mengubah mimpi menjadi kenyataan.

Penggelontoran Keputusan Menteri Negara Aparatur Negara Nomor:26. Menpan/1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru sebenarnya untuk mengubah nasib para guru yang muaranya untuk kesejahteraan  para komunitas Umar Bakri itu sendiri, yang dulunya hanya bisa golongan III sekarang sudah bisa golongan IV, bahkan masih mungkin ke golongan IV/e. tentunya diimbangi dengan profesionalisme guru tersebut yang semakin memadai. Ada tiga tugas pokok guru yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh guru tersebut; (1) tugas profesional yaitu tugas yang berhubungan dengan profesinya, (2) tugas kemasyarakatan yaitu tugas sebagai masyarakat atau warga negara dan (3) tugas manusiawi yaitu tugas sebagai manusia.

Pada dasarnya seorang guru yang professional seharusnya mampu mengantisipasi Keputusan Menteri Negara Aparatur Negara Nomor:26. Menpan/1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru tersebut. Dan pelatihan-pelatihanmerupakan kebutuhan bagi orang-orang yang selalu dinamis serta ingin ada perubahan pada dirinya yang pada akhirnya ingin menambah sumber daya dirinya, ingin menambah ilmu, wawasan pada dirinya terlebih bagi guru penular pengetahuan, pengalaman serta keterampilan terhadap murid atau orang lain yang membutuhkannya.

Penulis teringat apa yang dikatakan oleh seorang bisnisman yang mengawali karirnya dari bisnis papan reklame hingga sekarang memiliki stasiun TV CNN dan MGM yaitu Ted Turner  ”Jangan pernah putus asa dan menyerah. Karena apabila anda tidak pernah menyerah berarti anda tidak pernah kalah”. Penulis juga ingin mencoba mengajak teman-teman guru senasib seperjuangan untuk tidak mudah pesimis, skeptis, apatis, putus asa untuk meraih kesempatan yang sudah dibuka lebar oleh pemerintah. Dan  kebijakan ini mari kita apresiasi secara wajar tetapi tetap optimis yang pada akhirnya membuat hidup kita lebih hidup dan bermutu. ◙Hamka/P.01 (Gema No. 02 Tahun 2009)

Posted on November 14, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: