Profesionalisme Yang Tergadai

Gambar

Profesionalisme Yang Tergadai

Oleh. HAMKA

Hingar bingar dunia politik sejak reformasi menggelinding seakan-akan enggak ada habis-habisnya. Dari kasus Century hingga makelar kasus (markus) ini benar-benar menyita perhatian kita semuanya. Benarkah kebisingan dan gemuruh dunia politik seakan-akan mampu meredam semua persoalan bangsa ini?.

Setiap hari kita disajikan tontonan sinetron politik oleh para politisi kita baik di media cetak maupun di media elektronik, memang, dalam rumus politik, enggak ada kawan atau lawan yang abadi, tetapi yang ada hanyalah kepentingan abadi, yang ujung-ujungnya kompromi politik dan bagi-bagi jatah kekuasaan.

Sejak diadakan pemilu pertama diera reformasi tahun 1999. Partai politik bermunculan bagaikan kecambah tumbuh dimusim hujan. Setiap akan diadakan pemilu legislatif bermunculanlah partai-partai politik baru, karena partai lamanya enggak bisa ikut pemilu (baca: karena mendapat suara kurang dari batas minimal), maka para politisi ramai-ramai mengganti nama partainya agar pada pemilu yang akan datang partainya bisa ikut bertanding lagi.

Ketika pemilu demi pemilu bergulir semua partai berlomba-lomba untuk mengusung kenaikkan anggaran pendidikan. Apalagi di-era reformasi dunia politik seakan-akan dijadikan panglima pembangunan bangsa.  Yang terjadi adalah, berkaratnya sebuah tatanan negara yang lama-kelamaan dikhawatirkan dapat merusak sendi-sendi negara dan bangsa Indonesia yang sama-sama kita cintai ini.

Sekarang muncul lagi fenomena lama sejak reformasi, dimana para artis berbondong-bondong mencalonkan diri sebagai legislator (DPR) maupun eksekutor (Pemerintah). Dari calon anggota DPRD II, DPRD I, DPRD pusat kemudian merambah ke-calon walikota/bupati, gubernur, bahkan presiden.

Bukannya enggak boleh artis jadi anggota DPRD, DPR maupun waikota/bupati, gubernur atau Presiden, namun demikian mengurus negara enggak semudah membalik telapak tangan, modalnya enggak cukup popularitas.

Memang kita akui, di belahan barat bumi sana ada aktor yang memang menduduki jabatan-jabatan politik maupun public, sebut saja Ronald Reagan sebagai Presiden Amarika, Arnold Schwarzenegger sebagai Gubernur dan Clint Eastwood sebagai walikota dan sebagainya, karena mereka menganut demokrasi bebas.

Profesi yang sudah lama digelutinya mereka tinggalkan demi sebuah jabatan yang mungkin menurut mereka sangat menggiurkan, padahal di dunia politik penuh dengan kemunafekan, penuh intrik-intrik bahkan banyak yang menghalalkan segala cara demi tercapainya sebuah harapan.

Memang ini hak pribadi masing-masing individu, saya hanya menghimbau enggak usahlah para seniman, artis maupun tokoh agama berbondong-bondong hijrah kedunia politik yang memang penuh godaan. Peliharalah profesi masing-masing, sebab berjuang bukan berarti kita harus berada dilingkaran formal alias eksekutif, apalagi sampai menggadaikan profesionalisme yang sudah terpatri sejak lama, yang kesemuanya ini akan menambah kesemrawutan bangsa ini.

Sebenarnya semakin banyak partai semakin lamban bangsa ini. Kalau saya menganalogikan partai ibarat belatung, semakin banyak partai semakin cepat bangsa ini rapuh dan keropos. Begitu juga belatung, semakin banyak belatung pada buah, semakin cepat pula busuknya buah itu, kalau kita ingin bangsa ini cepat maju enggak usah terlalu banyak partai, lihat saja negara-negara maju seperti Amarika dan Cina, berapa sih partai yang ada di sana?.

Posted on November 17, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: