Guru Yang Membumi

100_4687

 Oleh Drs. H A M K A, M.Pd

Kepala SDN Cengkareng Barat 13 Pagi

 Mengiringi pemberitaan mendekatnya jarak planet Mars dengan bumi pada tanggal 27-29 Agustus 2003 lalu karena Mars kini telah menuju titik oposisi dimana Bumi dan Mars berada pada satu arah pandang yang sekaligus menuju titik perihelionnya, yaitu posisi terdekatnya dengan Matahari.

Kata  para ahli perbintangan kejadian langka ini akan terjadi lagi antara 60.000 – 7.3000 tahun dengan jarak ke Bumi sekitar ± 55.7600.000 kilometer, tertulis juga tentang beberapa siswa sekolah dasar dan sekolah lanjutan yang mengaku bahwa dalam pelajaran IPA di sekolahnya hingga kini tidak pernah sekalipun guru mengaitkan dengan peristiwa mendekatnya planet Mars dengan Bumi.

Mereka hanya tahu peristiwa yang terjadi yaitu mendekatnya planet Mars ke Bumi  telah diberitakan di masmedia baik cetak maupun elektronik, bahkan omongan dari teman-temannya sendiri. Para guru pun selama ini belum pernah menceritakan lebih jauh tentang planet Mars selain yang tertulis dalam buku pelajaran.

Peristiwa planet Mars mendekat jaraknya dengan bumi tersebut hanyalah salah satu persoalan yang menegaskan keperihatinan dalam dunia pendidikan di negeri ini, betapa sekolah dan materi kurikulum pengajarannya memiliki kesenjangan dengan dunia nyata. Kesempatan dan berbagai peristiwa sekitar tidak mengusik inspirasi para guru.

Dalam   tataran teori yang terurai di depan kelas dan tersurat di buku pelajaran tidak membumi pada pengalaman manusiawi siswa. Praktikum laboratorium seringkali terjebak dalam sikap formal dan pilihan-pilihan standar prosedur. Ilmu pengetahuan alampun sungguh-sungguh ilmu tentang alam, belum membawa siswa untuk mengalami sendiri. Pelajaran bahasa direduksi sekedar hafal menghafal tanpa ada kesempatan untuk mengasah komunikasi.

Salah satu faktor yang paling penting dalam menjembatani kesenjangan-kesenjangan dalam pendidikan tersebut adalah guru. Kurikulum memang penting, namun bisa berhenti sebagai barang mati yang masih membutuhkan sosok-sosok guru untuk menterjemahkannya dalam praktek pengajaran.

100_4689

Kartono pengamat pendidikan  mengutif Fuad Hasan “Tanpa guru yang dapat diandalkan penguasaan materi mustahil suatu system pendidikan berikut kurikulum serta muatan kurikulernya dapat mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan”. Berkaitan dengan peristiwa mendekatnya planet Mars ke Bumi, penulis akan mencoba mengaitkan dengan dua hal penting yaitu profesionalitas guru dan perlunya menyiasati kurikulum.

Usaha-usaha untuk penyegaran proses belajar dan mengajar, seharusnya tidak melupakan faktor guru yang mesti diperhatikan profesionalismenya. Kartono mengutif Department of Education Victoria (1999) ada lima standar profesionalisme untuk guru (1) Tanggung jawab professional (2) Isi mengajar dan belajar (3) Praktik pengajaran (4) Penilaian dan pelaporan proses belajar siswa dan (5) Hubungan dengan sekolah atau komunitas yang lebih luas. Dimensi tersebut disertai langkah-langkah untuk mewujudkannya secara nyata, yaitu:

Memperhatikan Konteks

Berhubungan dengan isi pengajaran, seringkali dikritikkan bahwa materi-materi yang disampaikan oleh guru tidak membumi pada siswa. Guru mesti membekali diri dengan pengetahuan dengan konteks pendidikan termasuk tujuan system pendidikan dewasa ini dan tujuan-tujuan kurikulum yang terdapat dalam visi dan misi sekolah. pemahaman guru terhadap konteks siswa setempat memang menimbulkan tarik ulur dengan model kurikulum yang terpusat.

Dalam dimensi profesionalitas ini, guru dituntut untuk memotivasi dan melibatkan dengan proses belajar dengan menggunakan gaya, strategi serta teknik pengajaran yang sesuai dengan konteks pembelajaran. Tugas-tugas pembelajaran disusun demi belajar individu, dan perbedaan-perbedaan latar belakang siswa serta mengoptimalkan waktu belajar. Perlunya memperhitungkan efek-efek perbedaan kemampuan fisik, intelektual, dan ketersediaan alam selama proses belajar dengan mengingat bahwa siswa mempunyai potensi untuk bertumbuh.

Memperbaharui Diri

Seorang guru yang menunjukkan tanggung jawab professional seharusnya secara aktif terlibat di dalam kegiatan-kegiatan atau program pengembangan profesional dan menunjukkan sebuah komitmen untuk belajar terus menerus, sebab kata orang bijak “di mana kita berada disitulah sekolahku, kepada siapa kita bicara itulah guruku”.

Mengusahakan untuk melibatkan diri kedalam proses refleksi secara kritis terhadap praktik-praktik peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran. Tanggung jawab ini tidak menjadi usaha sendiri, dimungkinkan bekerja sama dengan teman sejawat atau para kolega untuk merencanakan , menerapkan, dan mengevaluasi ide-ide baru, strategi pengajaran serta penerapan teknologi pengajaran yang meningkatkan pembelajaran siswa.

Dapatkah guru memberikan dukungan kepada teman sejawat untuk mengeksplorasi dan mengevaluasi ide-ide baru, serta teknik-teknik pengajaran/ strategi-strategi pengajaran yang meningkatkan mutu siswa. Jika seorang guru mau memperbaharui diri terus menerus menjadi wujud tanggung jawab professional guru, maka dari mana dan kapan pun datangnya, tidak perlu dipilih pilih.

100_4692

Menunggu program-program atau diklat-diklat yang dilakukan dalam kedinasan secara berkala berarti menunda kesempatan yang lewat setiap saat. Pemahaman tentang struktur kurikulum sekolah, perencanaan , dan implementasi, terkait dengan tanggung jawab isi mengajar dan belajar.

Meskipun untuk kondisi guru Indonesia begitu berat, tetapi gurupun perlu menunjukkan sebuah tingkatan pengetahuan tentang disiplin-disiplin ilmu yang relevan, proses pembelajaran siswa, dan sumber-sumber pembelajaran dengan menggunakan pengetahuan itu dalam penerapan di kelas. Bacaan-bacaan mutakhir akan menghadirkan sosok guru yang well-inform di depan siswanya, masihkah pantas sekolah disebut sebagai pusat perubahan (agent of change), atau mungkin sudah terbalik, sekolah malah tertinggal dari lingkungan sekitar, ini perlu dijawab oleh semua pihak.

Tidak harus para guru berlangganan koran atau jurnal ilmiah, internet. Jika lembaga tempat para guru bekerja dapat menyediakannya, pastilah satu persoalan guru untuk mendapatkan informasi mutakhir akan terjawab. Tantangan yang menghadang guru untuk selalu membaharui diri adalah sikap cepat puas diri dan seadanya saja., atau bahkan sikap sudah merasa tahu.

Mampu mengevaluasi

Kemampuan mengevaluasi sebagai salah satu dimensi profesionalisme adalah mengevaluasi perkembangan siswa secara utuh dan terus menerus, bukan hanya berlangsung saat akhir catur wulan ataupun semester. Artinya memberikan umpan balik yang terus menerus kepada performa siswa sedemikian rupa sehingga membangun kepercayaan dan memberi dorongan terhadap usaha-usaha yang terus menerus. Umpan balik yang disampaikan kepada siswa adalah umpan balik yang positif yang dapat memacu prestasi siswa serta berfokus pada pengembangan siswa secara utuh.

Proses mengevaluasi siswa tidak cukup dilakukan sendiri-sendiri. Gurupun dituntut untuk menciptakan proses perantara (tawasul) antar teman untuk menyakinkan pemahaman umum tentang hasil belajar siswa. Perlunya membantu teman atau kolega sekerja untuk menerapkan strategi-strategi pelaporan dan penyimpulan yang mencerminkan kebutuhan-kebutuhan belajar siswa. Akhirnya bekerja sama dengan kolega untuk meyakinkan pemahaman umum tentang hasil belajar siswa sesuai dengan kerangka kurikulum sekolah.

Melaksanakan Kurikulum

100_4691Ketidak sempatan guru membawa siswa melakukan berbagai ekplorasi atau menuntun kearah pengalaman-pengalaman manusiawi sangat mungkin disebabkan oleh beban kurikulum dan target-target ulangan-ulangan umum bersama. Beban kurikulum yang begitu berlebih akan mendorong guru memilih jalan aman dengan menempatkan diri sebagai seorang pengajar yang tertib, meskipun harus kehilangan kesempatan untuk memberikan kedalaman materi. Kartono mengutif Paul Suparno, dkk (2002) menawarkan sebuah rekomendasi penyiasatan kurikulum dengan berkaca dari Amerika Serikat.

Ada kecenderungan pendidikan yang dikembangkan di sana yang menekankan less is more. Jumlah materi pengajaran dikurangi supaya siswa mempunyai kesempatan meneliti secara mendalam. Pengurangan jumlah bahan pelajaran dilakukan agar siswa mempunyai banyak waktu luang untuk lebih mendalam bahan tersebut. Siswa tidak diburu waktu serta mempunyai kesempatan untuk berpikir kritis serta berefleksi.

Yang dapat dilakukan adalah menghilangkan substansi pelajaran yang berulang-ulang, menghilangkan pokok bahasan yang tidak penting yaitu pokok bahasan yang sekedar “kosmetik”, menawarkan ketuntasan belajar, menyediakan materi terapan yang dapat digunakan untuk meningkatkan mutu kehidupannya, menyajikan kurikulum yang sesuai dengan kemampuan sumber daya daerah.

Jika rekomendasi demikian dituruti maka siswa berpeluang dan termotivasi untuk mendalami berbagai hal yang relevan baik di kelas maupun di luar kelas. Dengan demikian mendekatnya planet Mars dengan Bumi sebagai peristiwa alam dengan segala aspek penyertanya, tentunya mempunyai korelasi dengan materi dan konteks belajar siswa. Jakarta sebagai “Ibukota negara Republik Indonesia” yang di dalamnya ada Taman Mini Indonesia Indah akan menjadi peta Indonesia dan menyenangkan bagi pembelajaran anak-anak kita, ini hanya salah satu contoh.

Akhirnya, guru pun akan mengasah diri terus menerus, tanpa berhaha-hihi ketika ditanya tentang planet Mars, atau sekedar meminta siswa menonton sebuah iklan obat terlambat bulan di televisi dengan narasi  “……………bulan-bulan mendekatlah padaku!”*** ■hamka/Gun/P.01(Gema No. 01 Tahun 2004)

Posted on Desember 12, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: