Ketika Pelawak, Sinetron Berseragam Sekolah

Gambar

Selama ini kita semua tahu bahwa sangat kurang penghargaan terhadap sains, sebut saja kegiatan-kegiatan yang bersifat ilmiah kurang ada perhatian dari masyarakat, mahasiswa, pelajar termasuk para pengusaha. Bahkan lenyap dari gelombang hiruk pikuknya dunia hiburan yang ditayangkan oleh media kaca entah itu siaran langsung maupun siaran tunda. Orang lebih senang dan tertarik melihat tayangan yang bersifat hiburan dan mistik kalau dibanding dengan tayangan-tayangan yang bersifat ilmiah.

Masih kurangnya apresiasi masyarakat kita terhadap prestasi di bidang sains sebagaimana halnya pada bidang lain;seni tarik suara misalnya. Contoh nyata adalah gegap gempitanya animo masyarakat akan tayangan-tayangan yang bersifat hiburan, masyarakat lebih tertarik nonton pelawak maupun sinetron dari pada tayangan-tayangan yang bersifat ilmiah dan ekshibisi sains iptek lainya.

Jika saat ini kita bertanya kepada khalayak, ”Siapakah yang lebih saudara ketahui bintang sinetron atau pelawak dari pada juara fisika, matematika tingkat nasional maupun internasional?, padahal mereka adalah peraih medali emas pada Olimpiade Fisika Internasional di berbagai negara, Ini adalah fenomena yang enggak bisa kita pungkiri.

Bagaimana para siswa akan tertarik untuk berprestasi di bidang sains, jika nama orang-orang yang berprestasi di bidang itu pun mereka tidak tahu? Bahkan bisa jadi minat yang ada akan layu sebelum waktunya jika dukungan untuk menumbuhkembangkan potensi para bunga-bunga bangsa ini minim sekali, perlu adanya kesadaran kolektif dari komponen bangsa ini.

Dengan hadiah seabrek ditambah lagi bonus yang berlimpah lengkaplah penghargaan terhadap dunia yang bersifat hiburan atau seni ini, sebut saja semisal The Master dan tayangan-tayangan aneh lainnya. Seharusnya proporsional penghargaan terhadap sains atau iptek dengan dunia tarik suara. Sekarang generasi muda lebih senang jadi artis atau pelawak ketimbang jadi ilmuan.

Komponen bangsa harusnya menyadari, termasuk dunia usaha memiliki tanggung jawab moral serta  tanggung jawab kebangsaan yang bisa diaplikasikan kepada kepeduliannya terhadap IPTEK yang notabene sebagai modal dasar kemajuan bangsa di masa datang. Tetapi kenyataanya kurang sekali sponsor dikarenakan enggak ada nilai jualnya.

Dunia usaha seharusnya menyadari dan saling mendukung dengan media massa. Dunia usaha dan media massa suka tidak suka  harus mau mengusung kepermukaan tema-tema yang bersifat sains atau IPTEK.

Diperparah lagi dengan tayangan-tayangan yang bersifat mistik, fiksi, pelawak dan sinetron yang berseragam anak sekolahan, yang kadang-kadang sebenarnya melecehkan dunia pendidikan itu sendiri selalu ditayangkan di media elektronik kita, padahal kalau dikemas akan menjadi wahana atau sarana yang efektif terhadap pembelajaran IPTEK itu sendiri.

apalagi sekarang enggak ada media elektronik yang khusus mengusung misi pendidikan, paling-paling hanya TVRI saja yang masih peduli terhadap kemajuan dunia pendidikan secara umum.

Seharusnya kita patut bersyukur dengan sejumlah prestasi yang telah diraih oleh para duta sains kita di olimpiade sains tingkat internasional, sesuai dengan mata pelajaran yang mereka ikuti.

Terkesan berita-berita tentang prestasi anak tengelam ditelan bumi, yang ada hanyalah berita-berita/tayangan anak-anak tawuran sampai terkadang di ulang-ulang, semakin menambah mirisnya dunia pendidikan kita. harusnya juga media elektronik ikut bertanggungjawab terhadap pembentukan karakter bangsa ini, jangan hanya menayangkan sisi buruknya saja dari anak-anak penerus bangsa ini.

Yang dikhawatirkan oleh penulis adalah, jangan sampai generasi muda cerdas kita lebih senang bermimpi makan roti dari pada makan singkong tetapi nyata, lebih senang jadi pelawak, lebih senang jadi tukang sulap, lebih senang jadi pemain sinetron dari pada jadi ilmuan.

Jadilah bangsa kita sebagai bangsa yang masyarakatnya masyarakat doyan nonton, masyarakat yang dikendalikan teknologi bukan masyarakat yang mengendalikan teknologi, padahal teknologi adalah barang netral, kita mau pergunakan yang baik-baik itu teknologi juga bisa, kita mau pergunakan yang buruk-buruk teknologi juga bisa, tergantung kita niat dan maunya. contoh Nuklir kita mau gunakan untuk bunuh orang juga bisa, nuklir kita mau gunakan untuk kesejahteraan manusia juga bisa.

Posted on Desember 22, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: