Partai dan Belatung

Gambar

Oleh. Drs. HAMKA, M.Pd

Sejak digelar pemilu pertama diera reformasi tahun 1999. Partai politik bermunculan bagaikan kecambah tumbuh dimusim hujan. Setiap akan diadakan pemilu legislatif bermunculanlah partai-partai politik baru, karena partai lamanya enggak bisa ikut pemilu (baca: karena mendapat suara kurang dari batas minimal), maka para politisi ramai-ramai mengganti nama partainya agar pada pemilu yang akan datang partainya bisa ikut bertanding lagi.

Seharusnya batas minimal syarat sebuah partai bisa ikut pemilu minimal  25%, sehingga partai yang ikut dalam pemilu benar-benar  partai yang sudah mengakar dan berkualitas. Partai-partai yang merasa gurem merger saja dengan partai gurem lainnya!. Partai enggak usah banyak, sedikit tapi berkualitas, sehingga mampu menempatkan kader-kadernya di DPR kader yang berkualitas, yang muaranya produk hukum yang mengutamakan kepentingan bangsa dan kepentingan masyarakat.

Ketika pemilu demi pemilu bergulir semua partai berlomba-lomba untuk mengusung kenaikkan anggaran pendidikan. Apalagi di-era reformasi dunia politik seakan-akan dijadikan panglima pembangunan bangsa.  Yang terjadi adalah, berkaratnya sebuah tatanan negara yang lama-kelamaan dikhawatirkan dapat merusak sendi-sendi negara dan bangsa Indonesia yang sama-sama kita cintai ini.

Hingar bingar dunia politik sejak reformasi menggelinding seakan-akan enggak ada habis-habisnya. Dari kasus Century hingga Hambalang  ini benar-benar menyita perhatian kita semuanya. Benarkah kebisingan dan gemuruh dunia politik seakan-akan mampu meredam semua persoalan bangsa ini?.

Setiap hari kita disajikan tontonan sinetron politik oleh para politisi kita baik di media cetak maupun di media elektronik, memang, dalam rumus politik, enggak ada kawan atau lawan yang abadi, tetapi yang ada hanyalah kepentingan abadi, yang ujung-ujungnya kompromi politik dan bagi-bagi jatah kekuasaan.

Sekarang muncul lagi fenomena lama sejak reformasi, dimana para artis ataupun politisi karbitan  berbondong-bondong mencalonkan diri sebagai legislator (DPR) maupun eksekutor (Pemerintah). Dari calon anggota DPRD II, DPRD I, DPRD pusat kemudian merambah ke-calon walikota/bupati, gubernur, bahkan presiden.

Reformasi adalah bagaikan bola liar yang mengelinding kencang, siapa yang mampu menjinakkan reformasi atau bola liar tersebut, dialah orang/kelompok yang memegang kendali yang otomatis keluar sebagai pemenang reformasi itu sendiri. Kalau reformasi dipegang oleh orang-orang yang enggak bertanggungjawab terhadap bangsanya, maka reformasi hanya selogan dan tinggal menunggu kehancuran bangsa Indonesia yang sama-sama kita cintai ini.

Bukannya enggak boleh aktor, artis termasuk tokoh agama dan guru jadi anggota DPRD, DPR maupun waikota/bupati, gubernur atau Presiden, namun demikian mengurus negara enggak semudah membalik telapak tangan, modalnya enggak cukup popularitas dan pintar dalam konteks akademis saja. Kenyataannya atau prakteknya dunia politik di Indonesia kotor.

Memang kita akui, di belahan barat bumi sana ada aktor yang memang menduduki jabatan-jabatan politik maupun publik, sebut saja Ronald Reagan sebagai Presiden Amarika 1981-1989, Arnold Schwarzenegger sebagai Gubernur  California dan Clint Eastwood sebagai Walikota Carmel di California dan sebagainya, karena mereka menganut demokrasi bebas atau demokrasi liberal.

Profesi yang sudah lama digelutinya, mereka tinggalkan demi sebuah jabatan yang mungkin menurut mereka sangat menggiurkan, padahal di dunia politik penuh dengan kemunafekan, penuh intrik-intrik bahkan banyak yang menghalalkan segala cara demi tercapainya sebuah harapan atau kedudukan, karena sudah banyak mengeluarkan modal.

Memang ini hak pribadi masing-masing individu, penulis hanya menghimbau enggak usahlah para seniman, artis maupun tokoh agama termasuk guru di dalamnya berbondong-bondong hijrah kedunia politik yang memang penuh godaan. Peliharalah profesi masing-masing, sebab berjuang bukan berarti kita harus berada di lingkaran formal alias legislatif dan eksekutif, apalagi sampai menggadaikan profesionalisme yang sudah terpatri sejak lama, yang kesemuanya ini akan menambah kesemrawutan bangsa ini.

Sebenarnya semakin banyak partai semakin lamban bangsa ini untuk bergerak maju. Kalau saya boleh menganalogikan partai ibarat belatung, semakin banyak partai semakin cepat bangsa ini menjadi rapuh dan keropos. Begitu juga belatung, semakin banyak belatung yang berada pada buah,  semakin cepat pula busuknya buah itu.

Kalau kita ingin bangsa ini cepat maju enggak usah terlalu banyak partai, lihat saja negara-negara maju seperti Amarika Serikat, Rusia dan Cina, berapa sih partai yang ada di sana? Kenyataannya bangsa yang jumlah partainya sedikit bangsa itu akan lebih mudah bergerak dan lincah dalam membangun bangsanya.

Untungnya guru belom ada yang langsung tergiur dalam jabatan publik ataupun politik praktis secara berduyun-duyun, atau memang susah untuk kearah sana? Kalaupun ada mungkin bisa dihitung oleh jari, itupun biasanya guru yang sudah lepas jabatan formal sebagai guru.  Bukannya guru enggak boleh hijrah kedunia politik praktis dan bukan juga guru harus buta dunia politik praktis, justru harus pakar sekaligus praktisi dalam konteks politik moral (high politik).

Tugas guru sebagai penentu masa depan bangsa sebagai pengukir masa depan bangsa, akan lebih terasa mulya dan bermanfaat kalau profesinya dijalankan dengan baik, sebab guru harus bermain di wilayah highpolitik (politik tinggi/politik moral atau politik nasehat) bukan lowpolitik (politik rendah/politik praktis/politik yang hanya mengejar kedudukan atau kursi).

Kita harus akui, betapa besar peran guru dalam menanamkan semangat kebangsaan kepada anak-anak bangsa. Indonesia bangsa dengan puluhan ribu pulau dan beragam budaya sebenarnya cukup memenuhi syarat untuk bercerai berai. Tapi, itu enggak terjadi karena dipersatukan oleh pendidikan melalui semangat yang ditanam oleh guru. Ini menandakan, bagaimana kuatnya pengaruh pendidikan yang kita anggap sepele ini.

Andaikata “guru” berduyun-duyun hijrah ke politik praktis atau lowpolitik, habislah benteng moral dan perekat bangsa ini, tunggu saja kehancurannya. Politik dan profesionaliseme enggak akan bisa bergandengan tangan, sebab di dalam dunia profesionalisme 2 x 2 = 4 ini pasti, tetapi dalam dunia politik 2 x 2 = bisa = 3, 5,7 tergantung selera, ini yang membuat bangsa yang sama-sama kita cintai semakin lama semakin rapuh dan busuk. Boro-boro kita bisa menangkal gangguan eksternal bangsa ini, karena semakin kedepan gangguan eksternal bangsa ini semakin dahsyat◙Hamka/P.01

Posted on Desember 23, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Belatung? Bau dong bang …. Ane ogaaaaaaaaaaaaah :(:( …. Makin hebat ni blognya …. Di tunggulagi tulisannye bang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: